Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

“Ayah, Bawa Aku Pulang…”: Kesaksian Ayah Bongkar Dugaan Lalai RSIA Puri Betik Hati

Bandarlampung (LW): Ruang rapat Komisi V DPRD Provinsi Lampung mendadak hening, lalu pecah oleh suara bergetar seorang ayah. Muslim, tak kuasa menahan emosi, menguliti detik-detik terakhir anaknya, Abizar Fathan Athallah, yang meninggal dunia usai dirawat di RSIA Puri Betik Hati.

Di hadapan Ketua dan para anggota Komisi V DPRD maupun Dinas Kesehatan, satu per satu fakta disampaikan. Bukan sekadar keluhan, ini jeritan.

“Dari jam 1 malam sampai pagi anak saya kesakitan terus. Saya sudah berkali-kali minta dokter, tapi hanya diberi obat nyeri,” ucapnya, lirih (13/4).

Malam itu jadi awal petaka. Rasa sakit tak mereda, muntah tak berhenti. Bahkan setiap makanan yang masuk, kembali keluar. Kondisi kian genting saat muntahan berubah hijau, ada indikasi serius yang belakangan disebut sebagai dugaan usus buntu.

Namun, waktu berjalan tanpa kepastian. Anak itu dipuasakan sejak pagi untuk persiapan operasi. Tapi dokter bedah yang ditunggu tak kunjung datang. Satu jam, dua jam, hingga lebih dari 10 jam berlalu.

“Saya cuma dengar anak saya bilang, ‘ayah, bawa aku pulang… aku sudah tidak kuat’,” kenang Muslim, suaranya patah.

Haus, lemah, menunggu, tanpa kepastian.

Dokter bedah baru muncul sekitar pukul 17.00 WIB. Saat keputusan operasi akhirnya diambil, kondisi korban sudah di ujung batas.

“Jam enam sore, anak saya sudah tidak kuat. Sampai di-shock. Saya teriak minta tolong,” katanya.

Namun yang datang setelahnya bukan jawaban, melainkan kehilangan.

Di tengah duka, muncul kejanggalan lain. Muslim mengungkap kesaksian istrinya bahwa seseorang diduga memasukkan cairan ke mulut korban saat kondisi anaknya sedang megap-megap.

“Saya tidak tahu itu siapa. Anak saya lagi susah napas, malah dimasukkan air ke mulut. Itu tidak diakui, dan tidak ada CCTV,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, Muslim juga menyoroti sikap Dinas Kesehatan yang dinilainya tertutup. Ia mengaku tak pernah menerima kesimpulan resmi penyebab kematian anaknya.

“Hanya dibacakan rekam medis. Tidak ada kesimpulan. Saya minta tertulis, katanya tidak bisa,” ujarnya.

Bahkan, ia menemukan berita acara yang seolah-olah menyatakan telah terjadi mediasi.

“Tidak ada tanda tangan saya. Tapi isinya seperti sudah damai,” katanya tajam.

Santunan dari pihak rumah sakit pun tak mengakhiri luka. “Saya terima uang duka, tapi keadilan tetap saya cari,” ucapnya.

Permintaan maaf sederhana pun tak terpenuhi. “Minta maaf saja tidak. Alasannya karena merasa sudah sesuai SOP,” katanya.

DPRD Lampung memastikan kasus ini tak akan berhenti sebagai cerita duka. Ketua Komisi V, Yanuar Irawan, menegaskan seluruh fakta akan dikuliti tanpa kompromi. “Kami akan dalami semuanya. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.

Kini, satu pertanyaan besar menggantung, apakah ini murni musibah, atau ada kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan? (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *