Lampung Tengah (LW): Dalam rangka memperkuat fondasi kebangsaan dan memperdalam pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai luhur ideologi Pancasila, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Ni Ketut Dewi Nadi menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan pada Minggu (22/6). Kegiatan ini berlangsung di Kampung Rama Dewa, Seputih Raman, Lampung Tengah, dan dihadiri oleh puluhan warga Kampung Rama Dewa, termasuk pemuda-pemudi setempat.
Dengan mengusung semangat membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yakni Wakil Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri dan Ni Made Winarti. Keduanya memberikan perspektif berimbang mengenai pentingnya menjaga nilai kebangsaan di tengah tantangan era modern.
Dalam sambutannya, Ni Ketut Dewi Nadi menegaskan bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam membentuk karakter kebangsaan anak-anak Indonesia. Ia menyampaikan bahwa perempuan, terutama ibu, memiliki peran sentral sebagai penjaga dan penanam nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
“Pancasila bukan sekadar slogan atau simbol negara. Ia adalah jati diri bangsa. Agar nilai-nilai ini tidak luntur, kita harus mulai menanamkannya dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Dan perempuan, ibu-ibu, adalah garda depan dalam proses itu,” ujar Ni Ketut Dewi Nadi, yang juga Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung Fraksi PDI Perjuangan ini.
Dewi Nadi juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam setiap aspek kehidupan, baik di rumah, sekolah, maupun dalam pergaulan sosial.
“Lampung Tengah adalah miniatur Indonesia. Keberagaman yang ada harus dirawat dengan semangat persatuan. Mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman hidup, bukan hanya simbol di dinding sekolah atau kantor, tetapi nilai yang benar-benar kita praktikkan,” pungkasnya.

Wakil Bupati I Komang Koheri dalam pemaparannya, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gempuran informasi di era digital yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai ideologis bangsa. Ia mengatakan, banyak konten yang tersebar di media sosial justru mengikis semangat toleransi, kebersamaan, dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
“Kita hidup di zaman yang serba cepat, informasi datang tanpa penyaring. Di sinilah pentingnya keluarga menjadi benteng pertahanan pertama. Tanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Jangan biarkan anak-anak kita dibentuk oleh algoritma media sosial,” tegas Komang.
Sementara itu, Ni Made Winarti mengajak para peserta, untuk tidak ragu tampil sebagai agen perubahan sosial di lingkungannya. Ia menyebutkan bahwa perempuan dan anak muda di desa memiliki kekuatan besar untuk menjaga tradisi, moralitas, dan nilai budaya yang bersumber dari Pancasila.
“Ibu-ibu di desa adalah tulang punggung bangsa. Mereka bukan hanya mengurus dapur dan sawah, tapi juga menjadi penjaga warisan nilai gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial. Perempuan harus berani bicara, berani bergerak, dan menjadi penentu arah perubahan di kampungnya,” tutur Ni Made. (LW)











