Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Menembus Jalan Tanah Ujung Pesibar, Reses Imelda SH Penuh Harap dan Luka Infrastruktur

Pesisir Barat (LW): Tak ada deru mobil yang melintas di jalan menuju ujung Pekon Kabupaten Pesisir Barat. Bukan karena sepi, melainkan karena memang tak bisa dilewati. Jalan itu hanya hamparan tanah dan lumpur, licin dan dalam, terutama selepas hujan. Ban kendaraan roda empat dipastikan menyerah sebelum sampai tujuan.

Tak ada hamparan aspal mulus. Bagi warga, jalan ini bukan sekadar akses, ia adalah urat nadi ekonomi, jalur anak-anak menuju sekolah, dan penghubung harapan ke pusat pelayanan kesehatan.

Di tengah kondisi itulah, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Imelda SH, datang untuk melaksanakan reses dan menyerap langsung keluhan masyarakat.

Untuk mencapai lokasi, kendaraan roda empat harus diparkir jauh dari permukiman. Sisanya ditempuh dengan sepeda motor yang penuh dengan kehati-hatian, menyusuri jalan tanah yang lengket di ban dan sepatu. Setiap langkah seperti ditahan bumi yang basah. Selip sedikit, lumpur dan tanah sudah menanti.

Bagi warga, kondisi ini bukan hal baru. Sudah bertahun-tahun mereka hidup dengan akses seadanya. Jika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan panjang. Motor pun sering tergelincir.

“Kalau ada warga sakit malam hari, kami harus gotong atau pakai motor pelan-pelan. Mobil tidak bisa lewat,” ungkap seorang warga dengan nada getir.

Jalan tersebut menjadi satu-satunya akses keluar masuk hasil kebun dan kebutuhan pokok. Saat musim panen tiba, ongkos angkut melonjak karena kendaraan enggan mengambil risiko terjebak lumpur. Harga jual hasil bumi pun tergerus.

Imelda menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak sekolah berjalan hati-hati di atas tanah becek. Ia mengaku kondisi itu tak bisa lagi dianggap persoalan kecil.

“Ini bukan sekadar jalan rusak, tapi akses yang terputus. Kalau mobil saja tidak bisa masuk, bagaimana dengan ambulans? Bagaimana ekonomi warga bisa tumbuh?” ujar Imelda, tegas (1/3).

Dalam reses itu, warga berharap ada perhatian serius terhadap pembangunan jalan di Ujung Pekon Pesisir Barat tersebut. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya akses yang layak agar bisa beraktivitas tanpa rasa khawatir setiap kali hujan turun.

Langit Pesisir Barat sore itu mendung tipis. Lumpur masih melekat di alas kaki. Namun di antara jalan yang belum tersentuh aspal itu, tersimpan satu harapan, agar suara dari ujung pesisir tak lagi tenggelam di dalam lumpur, melainkan mengalir deras hingga menjadi keputusan nyata. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *