Bandarlampung (LW): Anggota DPR RI Mukhlis Basri menyoroti persoalan banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Bandar Lampung. Ia menilai banjir tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan, tetapi juga karena sistem aliran air yang sudah tidak mampu menampung debit air dari berbagai kawasan.
Mukhlis mengaku turut merasakan langsung dampak banjir tersebut. Di sekitar rumahnya di kawasan Kopri, air disebut tiba-tiba naik cukup tinggi, sesuatu yang menurutnya belum pernah terjadi selama puluhan tahun.
“Saya itu biasa sore keluar rumah, tiba-tiba air di depan rumah saya sudah tinggi. Di rumah saya di Kopri, selama 25 tahun saya tinggal di situ, belum pernah air setinggi itu,” ujarnya, Senin (9/3).
Ia mengatakan sempat meninjau langsung saluran air hingga ke aliran irigasi. Menurutnya, saluran tersebut sebenarnya sudah dibersihkan sebelumnya, namun tetap tidak mampu menampung air karena debit yang terlalu besar.
“Sebenarnya aliran itu sudah dibersihkan, tapi karena hujan sangat tinggi akhirnya tidak tertampung lagi. Apalagi sekarang banyak aliran air dari berbagai wilayah semuanya dibuang ke situ,” jelasnya.
Mukhlis menilai kondisi ini perlu dikaji ulang, terutama terkait sistem pembuangan air agar alirannya bisa lebih cepat menuju muara sungai dan laut.
“Saya minta ini dikaji ulang, bagaimana seharusnya aliran air itu diatur supaya lebih cepat menuju muara. Jangan sampai semua dibebankan ke satu jalur saja,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menghambat aliran air dan memperparah banjir.
Menurut Mukhlis, penanganan banjir di Bandar Lampung tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten/kota.
“Pekerjaan menyelesaikan banjir ini tidak bisa hanya wali kota saja, tidak bisa hanya pemerintah daerah. Harus ada kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,” tegasnya.
Ia juga menyoroti masih minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di Bandar Lampung. Ke depan, menurutnya perlu dibangun lebih banyak embung yang tidak hanya berfungsi menampung air, tetapi juga menjadi ruang terbuka hijau bagi masyarakat.
“Kita perlu banyak embung. Selain menampung air, bisa juga dijadikan taman kota yang hijau dan terbuka. Karena sekarang kita merasakan, kalau hujan bisa terus banjir, kalau panas juga terasa sangat terik,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Eva Dwiana menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melakukan berbagai langkah untuk menangani persoalan banjir.
Ia menjelaskan, rumah-rumah yang berada di pinggir sungai telah dibongkar secara bertahap dan warga juga dibantu untuk memperbaiki tempat tinggal mereka.
“Ada di pinggir sungai, itu sudah secara bertahap kita selesaikan. Dan sudah kita bantu untuk perbaikannya,” ungkapnya.
Menurut Eva, salah satu persoalan terbesar berada di wilayah perbatasan antara Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan yang memiliki sejumlah sungai besar, sementara untuk wilayah pesisir dinilai relatif lebih aman.
Ia berharap adanya dukungan dari balai terkait serta pemerintah lainnya untuk membantu mencari solusi terhadap persoalan sungai yang berdampak pada banjir di kota tersebut.
“Mudah-mudahan tergeraklah hati balai untuk bisa mencari jalan solusi, jalan keluarnya. Untuk masalah dampak sungai-sungai yang ada di Bandar Lampung,” katanya.
Eva menegaskan, pemerintah kota terus melakukan berbagai upaya seperti perbaikan drainase, pembersihan sungai, serta penataan rumah-rumah di bantaran maupun di tengah aliran sungai.
Selain itu, para camat juga diminta mendata warga yang belum mendapatkan bantuan agar penanganan banjir dapat dilakukan lebih menyeluruh.
“PR Bandar Lampung bukan hanya tugas kami saja, tetapi juga tugas provinsi dan balai. Kita harus menyelesaikannya bersama-sama,” tegasnya. (LW)











