Bandarlampung (LW): Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal, menanggapi penilaian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang menyebut kondisi fiskal Provinsi Lampung tergolong kuat. Menurutnya, apresiasi tersebut patut disyukuri, namun tidak boleh membuat pemerintah daerah terlena.
“Kita patut memberikan apresiasi dan penghargaan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan keuangan di Provinsi Lampung,” ujar Yozi. (4/1).
Ia mengatakan, penghargaan juga layak diberikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) yang mampu membelanjakan anggaran secara proporsional. Yozi menyebut realisasi belanja daerah telah mencapai lebih dari 70 persen, bahkan mendekati 80 persen.
“Belanja kita sudah mencapai 70 persen lebih, hampir 80 persen. Tapi kita juga tidak boleh terninabobokan dengan itu,” katanya.
Yozi menegaskan, di balik penilaian fiskal kuat tersebut, kondisi keuangan Provinsi Lampung masih menghadapi defisit. Ia menjelaskan, defisit terjadi karena target pendapatan dari pemerintah pusat tidak terpenuhi.
“Realnya kita defisit karena dana bagi hasil, dana alokasi khusus, dan transfer dari pusat banyak yang mengalami pengurangan,” ucapnya.
Menurut Yozi, besarnya pendapatan asli daerah (PAD) dibandingkan dana transfer pusat juga tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal kekuatan fiskal. Ia menilai PAD Lampung saat ini masih belum mampu menutup seluruh kebutuhan belanja daerah.
“Secara jujur harus diakui, PAD kita masih jauh dari cukup untuk menutupi belanja pegawai, belanja jasa, belanja modal, belanja pembangunan, hingga belanja hibah,” tuturnya.
Dalam kondisi tersebut, Yozi menyatakan pemerintah daerah masih berharap pada dukungan pemerintah pusat. Ia berharap keuangan pemerintah pusat dapat segera pulih agar kewajiban kepada daerah dapat dipenuhi sesuai regulasi.
“Kita berharap keuangan pemerintah pusat bisa segera pulih dan kewajibannya kepada daerah bisa terpenuhi,” ungkapnya.
Selain itu, Yozi juga menyinggung rendahnya daya beli masyarakat sebagai salah satu indikator kondisi ekonomi daerah. Meski nilai tukar petani (NTP) tercatat baik, ia menilai tidak semua masyarakat merasakan dampaknya.
“Tidak semua orang punya kebun sawit atau kopi. Sementara gabah dan singkong belum. Nilai investasi juga belum terlalu bagus, sehingga duit yang beredar masih sedikit, permintaan rendah, dan harga cenderung stagnan,” tutupnya. (LW)











