Lampung Tengah (LW): Pemerintah Provinsi Lampung mulai tancap gas memperbaiki infrastruktur jalan di Lampung Tengah. Melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK), anggaran Rp170 miliar digelontorkan untuk membenahi tiga ruas jalan prioritas pada 2026.
Ini menjadi bagian dari proyek besar pembangunan poros jalan yang menghubungkan Pringsewu hingga Lampung Utara, yang menjadi jalur strategis penopang distribusi hasil bumi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala BMBK Lampung, M. Taufiqullah, mengungkapkan dari lima ruas jalan di Lampung Tengah, tiga di antaranya menjadi fokus perbaikan tahun ini. Salah satu yang paling krusial adalah ruas Kalirejo–Bangunrejo, kawasan dengan tingkat kepadatan tinggi.
“Wilayah ini termasuk paling padat di Lampung Tengah setelah Punggur–Trimurjo,” ujarnya, Jumat (3/4).
Tak berlebihan. Lalu lintas harian rata-rata (LHR) di ruas tersebut menembus lebih dari 5.000 kendaraan per hari, dipicu aktivitas tiga pasar besar yakni Kalirejo, Bangunrejo, dan Poncowarno.
Untuk proyek 2026, rincian anggaran dibagi pada tiga ruas utama: Bangunrejo–Kalirejo sebesar Rp60 miliar, Kalirejo–Padangratu Rp70 miliar, dan Padangratu–Pekurun Udik Rp40 miliar.
Dengan beban kendaraan berat yang tinggi, BMBK memilih konstruksi rigid beton sebagai solusi jangka panjang. Wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi sawit, padi, jagung, hingga aktivitas tambang rakyat seperti pasir dan bahan baku bata yang dipasarkan hingga luar daerah.
Namun, proyek ini tak sepenuhnya mulus. Pada ruas Kalirejo–Bangunrejo sepanjang 14 kilometer, pembangunan tahun ini baru menyasar 5,5 kilometer. Lonjakan harga material membuat sekitar 700 meter pekerjaan harus ditunda ke tahap berikutnya.
Meski begitu, ambisi besar tetap dipasang. Saat ini kondisi jalan mantap di Lampung Tengah berada di angka 89 persen dan ditargetkan melonjak menjadi 98 persen usai proyek rampung.
Tambahan proyek lain juga disiapkan, termasuk pembangunan ruas Bandar Jaya–Mandala senilai Rp100 miliar dari dana pinjaman.
Tak hanya memperbaiki, proyek ini juga meningkatkan kualitas jalan. Lebar jalan diperluas dari 4,5 meter menjadi 6 meter, ditambah bahu jalan di kedua sisi. Sistem drainase pun dibangun untuk mengatasi persoalan klasik: jalan rusak akibat genangan air.
Pemerintah tampaknya ingin menghapus catatan buruk masa lalu. Jalan yang sempat viral karena rusak parah hingga jadi “kolam dadakan” kini dijanjikan berubah total.
“Yang kemarin sampai masyarakat mandi di jalan, insyaallah tidak akan terjadi lagi,” tegas Taufiqullah. (LW)











