
Ambika melihat Sankrant memarkirkan mobil di parkiran depan rumahnya, ia berpura-pura sedang melakukan pooja saat Sankrant masuk.
Ambika : Kenapa kau datang kemari?
Sankrant terdiam, ia teringat malam terakhir saat dia dan Ambika berada diatas 1 ranjang.
Sankrant : Aku ingin minta maaf padamu untuk hari “itu”. Aku tidak tau bagaimana aku bisa sampai kemari dan melakukan semua itu.
Ambika : Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi denganmu. Jangan takut, aku tidak minta imbalan apa2. Itu adalah sebuah kesalahan dimatamu tapi bagiku itu adalah kewajibanku. Kalau aku mau aku bisa membuat laporan untuk melawanmu tapi sebagai istrimu, itu adalah kewajibanku untuk melayanimu.
Sankrant : Aku datang untuk memintamu melakukan sesuatu. Ini adalah berkas perceraian. Aku sudah menandatanganinya, hanya butuh tandatanganmu untuk melengkapinya.
Sankrant memberikan map berkas itu kepada Ambika, Ambika melemparnya kelantai.
Ambika : Kau fikir hubungan kita adalah lelucon? Aku akui aku adalah seorang penjahat, tapi aku sudah menyelesaikan hukumanku. Aku tidak menyangkal kalau aku pernah melakukan kesalahan tapi sekarang aku sudah menebus dosaku. Aku juga punya martabat. Apa kau tidak merasa malu sudah memanfaatkanku?
Sankrant : Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi malam itu.
Ambika : Aku datang kesana untuk minta maaf padamu dan memintamu untuk berhenti minum minuman keras. Apa yang terjadi sudah terjadi. Tinggalkan berkas itu disini, aku akan menandatanganinya.
Sankrant : Terimakasih.
Ambika : Mulailah kehidupan yang baru dengan orang lain. Aku tidak akan menghalangimu. Sekarang pergilah. Pooja ku belum selesai.
Sankrant pergi meninggalkan Ambika.
Ambika bicara dalam hati, “Ini adalah ketenangan sebelum badai datang. Gelombangnya akan segera menghancurkan keluargamu dan kau akan kehilangan segalanya”.











