Bandarlampung (LW): Tiga organisasi sipil yang tergabung dalam Triga Lampung—Aliansi Komando Aksi Rakyat (AKAR), Koalisi Rakyat Madani (KERAMAT), dan Pergerakan Masyarakat Analisis Kebijakan (PEMATANK) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Bank Lampung, Kamis (18/9). Massa menuntut reformasi total di tubuh Bank Lampung, termasuk pencopotan empat direktur yang dianggap gagal membawa perubahan dan justru melahirkan banyak persoalan fraud perbankan.
“Kami minta pergantian menyeluruh seluruh pejabat di Bank Lampung, termasuk empat direkturnya harus dicopot,” tegas Indra Mustain, Ketua DPP AKAR Lampung dalam orasinya.
Desakan ini juga dialamatkan kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal selaku pemegang kewenangan atas BUMD yang mengelola dana besar daerah.
Sudirman Dewa, Ketua KERAMAT, menilai modal usaha yang besar, konsumen yang jelas, dan subsidi pemerintah seharusnya membuat Bank Lampung mampu memberikan pelayanan terbaik. “Jangan justru dijadikan ladang korupsi untuk memperkaya pejabatnya,” ujarnya.
Ketua PEMATANK, Suadi Romli, menegaskan skandal Bank Lampung bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan dugaan fraud sistematis yang melibatkan orang-orang lama di jajaran manajemen. Ia mendesak DPRD dan aparat hukum ikut mengawal penuntasan persoalan ini. “Ini soal kepercayaan publik. Dengan mengganti pejabat nakal, kepercayaan rakyat bisa kembali,” katanya.
Dalam aksinya, massa menyoroti tujuh persoalan krusial: kesenjangan gaji mencolok antara pegawai dan direksi, minimnya transparansi hasil audit OJK dan BI, lemahnya keamanan sistem IT hingga memicu pembobolan ATM, buruknya pelayanan yang membuat 116 kepala pekon memindahkan rekening, kerugian Rp3,1 miliar akibat pemalsuan data KUR di KCP Liwa, sindikat pencetakan ATM pasif yang merugikan Rp2 miliar di Tulang Bawang, serta pembobolan ATM oleh karyawan internal di Pesisir Barat dengan kerugian Rp800 juta.
Aksi sempat ricuh dengan saling dorong antara massa dan aparat kepolisian, bahkan pelemparan batu ke halaman Kantor Bank Lampung saat demonstran berusaha memaksa masuk. Massa mengancam akan kembali dengan jumlah lebih besar pekan depan jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. (LW/*)











