Bandarlampung (LW): Pagi di Ruang Sula Abung, Kantor Gubernur Lampung, Senin (29/12), masih terasa dingin. Embun tipis menempel di kaca, sementara kilatan kamera lebih dulu memecah suasana. Di ruangan itulah Festival Foto Akhir Tahun Ikatan Jurnalis Pemerintah (IJP) Lampung resmi dimulai—sebuah ruang temu antara karya visual dan tanggung jawab publik.
Acara ini bukan sekadar pameran foto. Lebih dari itu, ia menjadi medium refleksi tentang sejauh mana kerja pemerintah benar-benar sampai ke mata masyarakat.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, membuka kegiatan dengan senyum hangat. Namun di balik tutur santunnya, terselip pesan tegas bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, saya mengapresiasi IJP. Tapi jujur, saya juga gemas dengan OPD yang belum aktif,” ujar Jihan, disambut tawa kecil hadirin.
Menurutnya, instruksi gubernur sudah sangat jelas: OPD harus aktif mempublikasikan kegiatan, terutama melalui media sosial. Sebab, pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah.
“Masyarakat sekarang tidak menunggu papan pengumuman. Mereka melihat layar ponsel. Banyak OPD bekerja keras, tapi tidak terpublikasi. Akhirnya kerja itu tidak sampai ke publik,” tegasnya.
Jihan menekankan, publikasi bukanlah pencitraan, melainkan bukti kerja nyata. Tanpa dokumentasi visual, kerja pemerintah berisiko hilang begitu saja.
“Foto itu penting. Redaksi tanpa foto rasanya kurang. Yang membuat orang tertarik membaca adalah foto dan video. Tapi tentu, foto harus beretika. Festival ini langkah nyata IJP Lampung,” tuturnya.
Nada Kritis dari IJP Lampung
Di hadapan jajaran Pemerintah Provinsi Lampung, Ketua IJP Lampung Abung Mamasa menyampaikan pandangannya dengan nada tenang namun mengena.
Bagi pewarta pemerintah, foto bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah jendela yang membuka kerja pemerintah kepada publik.
“Kami berharap OPD aktif mempublikasikan foto-foto kegiatannya. Masyarakat berhak tahu apa yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Lampung,” kata Abung.
Ia menyoroti masih adanya OPD yang terakhir kali mengunggah kegiatan pada 2024, padahal tahun hampir berganti ke 2026.
“Prosesnya tidak payah, semua sudah dalam genggaman. Sayang jika kinerja tidak terdokumentasi,” tambahnya.
Menurut Abung, Festival Foto IJP adalah pengingat sekaligus teguran halus—bahwa kerja tanpa publikasi sama saja dengan kerja yang tak terlihat.
Foto yang Bicara, Bukan Sekadar Seremoni

Dari sisi penilaian, dewan juri menyoroti pergeseran paradigma fotografi OPD. Tidak lagi berhenti pada foto seremoni, tetapi mulai menyentuh sisi human interest.
“Sudut pandang itu penting. Foto bukan hanya dokumentasi acara. Yang dinilai adalah momen, ketepatan waktu, dan kekuatan visual. Ketika karya bicara, publik akan mendengar,” ujar Simon Abdurrahman, perwakilan dewan juri.
Sejalan dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menilai festival ini sebagai bagian dari perubahan budaya kerja birokrasi.
“Kami mengapresiasi Diskominfotik dan IJP. OPD sekarang dituntut berinovasi dan aktif menampilkan kegiatannya, terutama di media sosial,” ujarnya.
Ia menegaskan, publikasi yang konsisten akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Karya yang “Hidup” Jadi Pemenang
Menjelang penutupan, para pemenang diumumkan. Bukan teknik semata yang dinilai, melainkan kemampuan foto menangkap denyut kehidupan.
Juara I – Dinas Peternakan
Juara II – RSUD
Juara III – Dinas Lingkungan Hidup
Juara Favorit – Dispora
Festival ini dinilai oleh empat dewan juri lintas profesi:
Syahroni Yusuf (PWI Lampung), Oyos Saroso (AMSI Lampung), Ardiansyah (PFI Lampung), dan Simon Abdurrahman (Akademisi).
Acara berakhir tanpa gemuruh tepuk tangan. Yang tertinggal justru renungan: berapa banyak kerja pemerintah yang hilang karena tak terdokumentasi?
Menutup kegiatan, Abung Mamasa menyampaikan harapan sederhana namun bermakna luas.
“Ke depan, OPD menunjukkan kinerjanya lewat publikasi. Bukan untuk lomba, tapi untuk masyarakat. Karena foto bukan sekadar gambar. Ia adalah jejak. Jejak yang membuat publik percaya bahwa kerja pemerintah benar-benar terjadi—bukan hanya terdengar, tetapi terlihat,” pungkasnya. (*)











