Bandarlampung (LW): Pasca Viralnya BBM Subsidi di SPBU 24.341.05 Seputih Jaya, Lampung Tengah dinyatakan habis, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel berdalih bahwa ada kesalahpahaman operator dalam menyampaikan informasi ke Masyarakat.
Area Manager Communication, Relation & CSR Sumbagsel Rusminto Wahyudi mengatakan, bahwa terkait pemberitaan mengenai SPBU 24.341.05 Seputih Jaya, Lampung Tengah, pada Jumat, 27 Februari 2026 lalu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyampaikan bahwa penyaluran Biosolar pada hari tersebut berlangsung sejak pukul 06.00 WIB hingga 14.00 WIB.
”Memasuki shift 2, penyaluran Biosolar dihentikan, sementara karena operator mengikuti pelatihan dan akan dilanjutkan kembali setelah yang bersangkutan kembali bertugas,” kata Rusminto, Rabu (4/3).
Untuk itu, kata Rusminto, jika sekitar pukul 15.00 WIB, saat penyaluran tidak berlangsung, terdapat satu kendaraan yang tetap dilayani oleh operator dari dispenser produk lain karena kondisi mendesak.
“Di belakangnya terdapat kendaraan lain yang juga bermaksud melakukan pengisian Biosolar JBT, namun tidak diketahui oleh operator. Karena harus kembali ke dispenser Pertalite sesuai penugasannya, operator kemudian menyampaikan stok solar habis, padahal stok masih tersedia dan penyaluran hanya dihentikan sementara. Situasi ini yang menimbulkan kesalahpahaman di lapangan,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, sambung Rusminto, SPBU itu akan melakukan evaluasi kepada karyawannya, sehingga hal tersebut tidak terulang di kemudian hari.
“SPBU telah melakukan evaluasi dan akan memberikan pembinaan kepada operator agar penyampaian informasi lebih jelas dan sesuai kondisi actual,” urainya.
Bahkan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menegaskan komitmennya untuk memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan sesuai ketentuan.
“Serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Untuk informasi lebih lanjut terkait produk dan layanan Pertamina, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center 135,” tandasnya.
Sebelumnya, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung Miswan Rody memergoki dugaan manipulasi distribusi BBM jenis solar bersubsidi di sebuah SPBU di Kelurahan Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah.
Ironisnya, di tengah papan pengumuman bertuliskan “solar kosong”, stok di tangki Spbu justru masih tersisa sekitar 6.000 liter.
Temuan itu bermula saat Politisi Nasdem Miswan tengah mengantre untuk mengisi Pertamina Dex di Spbu tersebut. Ia melihat jelas pemberitahuan solar habis dan mendengar langsung petugas menolak pengisian solar untuk kendaraan colt diesel dengan alasan stok kosong.
Namun tak lama berselang, sebuah kendaraan tiba-tiba menyerobot antrean dan tetap dilayani mengisi solar. Sopir kendaraan itu mengaku sebagai anggota dewan.
“Saya dengar sendiri petugas bilang solar kosong. Tapi tidak lama kemudian ada mobil menyerobot antrean dan tetap dilayani. Katanya anggota dewan. Saya tanya, ternyata bukan anggota dewan,” kata Miswan kepada media ini. Minggu (01/03)
Merasa janggal, Ketua Partai NasDem Lampung Tengah itu langsung melakukan klarifikasi kepada pihak SPBU. Hasil pengecekan menunjukkan stok solar masih tersedia hingga 6.000 liter.
“Kalau stok masih ada, jangan bilang kosong ke masyarakat. Sampaikan yang sebenarnya. Ini menyangkut hak rakyat kecil. Stok ada tapi masyarakat tidak dilayani, apapun alasannya, ini menyalahi,” terangnya.
Ia mengungkapkan, adanya pengakuan dari pekerja di lokasi bahwa pengisian solar saat itu hanya diperbolehkan bagi pihak tertentu. Dugaan praktik manipulatif dan penyalahgunaan distribusi solar bersubsidi pun mengemuka.
“Saya akan tindak lanjuti sampai tingkat provinsi. Ini tidak bisa dibiarkan. Solar subsidi itu untuk rakyat, bukan untuk dimainkan,” ungkapnya
Sementara, petugas SPBU Seputih Jaya Doni menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan yang dinilai mengecewakan tersebut. Ia mengakui stok solar sebenarnya masih tersedia.
“Pak Miswan kecewa dengan pelayanan kami. Kami minta maaf, ini kelalaian kami,” ujarnya.
Menurutnya, pemberitahuan “solar kosong” dipasang karena keterbatasan operator. Dari lima operator, satu orang sedang mengikuti pelatihan. Selain itu, pihak SPBU juga menunggu pengiriman BBM berikutnya.
“Stok masih ada, sekitar enam ton. Tiga ton kami sisakan untuk menjaga tangki agar mesin tidak rusak. Operator kurang satu karena training. Rencana awal mau jual jam 2 siang, kasihan operator karena kurang. Jadi kami off-kan sementara sambil menunggu minyak datang,” tandasnya. (Tim)











