Bandarlampung (LW): Di tengah gempuran teknologi digital dan derasnya arus informasi tanpa batas, ancaman terhadap nilai-nilai kebangsaan kini tidak lagi datang dari luar, melainkan tumbuh diam-diam dari dalam rumah. Fenomena inilah yang menjadi sorotan Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kecamatan Langkapura, Sabtu (13/6).
Menurut Andika, keluarga yang seharusnya menjadi benteng utama pembentukan karakter bangsa justru mulai kehilangan perannya akibat perubahan pola hidup masyarakat di era digital. Interaksi antaranggota keluarga semakin berkurang, sementara gawai mengambil alih ruang komunikasi dan pendidikan karakter.
“Kerusakan karakter hari ini banyak bermula dari rumah. Anak sibuk dengan handphone, orang tua larut dalam drama Cina dan media sosial. Akhirnya tidak ada lagi ruang dialog, tidak ada lagi pendidikan karakter. Rumah kehilangan fungsinya sebagai sekolah pertama bagi anak-anak,” tegas Andika di hadapan peserta sosialisasi.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa. Sebab, tanpa fondasi karakter yang kuat, generasi muda akan semakin rentan terhadap pengaruh negatif, intoleransi, hingga lunturnya rasa cinta tanah air.
Karena itu, Andika menegaskan bahwa sosialisasi Pancasila tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bukan karena masyarakat tidak hafal Pancasila. Justru karena Pancasila harus terus dihidupkan, dipraktikkan, dan diwariskan. Nilai gotong royong, toleransi, dan saling menghormati tidak boleh hilang dari kehidupan kita,” ujarnya.
Andika juga mengingatkan bahwa era media sosial telah menciptakan ruang yang sangat mudah memicu perpecahan. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi kekuatan demokrasi justru sering berubah menjadi konflik karena minimnya pemahaman terhadap nilai persatuan.
“Tanpa fondasi ideologi yang kuat, masyarakat akan mudah terprovokasi dan terpolarisasi. Di sinilah pentingnya Pancasila sebagai perekat kebhinekaan bangsa,” katanya.

Sementara itu, narasumber Agustiono menegaskan bahwa Pancasila lahir dari jati diri bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman dan nilai ketuhanan. Karena itu, penerapan Pancasila tidak dapat dipisahkan dari pembentukan moral dan adab dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila lahir dari keberagaman dan nilai ketuhanan. Jika masyarakat memegang teguh nilai agama, maka akan lahir sikap yang beradab, saling menghormati, dan bermoral,” jelasnya.
Menurut Agustiono, kekuatan terbesar Indonesia bukan terletak pada kekayaan alam maupun kekuatan militer, melainkan pada persatuan rakyatnya. Selama persatuan tetap terjaga, berbagai ideologi yang bertentangan dengan nilai bangsa tidak akan mendapat tempat.
“Bangsa ini tetap kokoh karena rakyatnya bersatu. Benteng terkuat bangsa bukan senjata, melainkan persatuan dan kesadaran bersama untuk menjaga Indonesia,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa proses menjaga persatuan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Peran orang tua, khususnya ibu, sangat menentukan dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.
“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika pendidikan karakter di rumah melemah, maka budaya dan nilai-nilai luhur bangsa akan perlahan terkikis. Jangan sampai rumah kehilangan perannya sebagai pusat pendidikan utama,” pungkasnya.
Senada, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Vandan Wilianti, selaku narasumber kegiatan juga menilai penguatan ideologi Pancasila harus sejalan dengan pendidikan karakter dan literasi keluarga.
Ia juga mengingatkan pentingnya menanamkan rasa syukur sejak dini serta meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat. (LW)











