Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Baduy, Peradaban yang Tak Tersentuh Waktu

Sebuah catatan dari jembatan yang Menahan arus

LANGKAH menuju Kanekes (desa adat suku Baduy, red) serasa berjalan melintasi waktu. Jalan setapak tanah merah bebatuan membelah perbukitan, melewati sungai jernih yang batu-batunya tersusun alami. Di kiri-kanan, hutan berdiri rapat, hening, seolah ikut menjaga rahasia.

Di sanalah Baduy hidup. Dalam dua wajah, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Berbeda dalam kelonggaran, sama dalam keyakinan.

Di antara ratusan saung sederhana di wilayah Baduy Luar, nampak Kang Udil, cucu Pukun (Kepala adat) dan juga tokoh adat yang disegani, duduk bersila. Ikat kepala biru hitamnya terpasang rapi, suaranya tenang namun penuh penekanan. Ia berbicara tentang pikukuh karuhun (amanat leluhur, red) yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Baduy.

“Kami hidup bukan untuk mengejar banyak. Kami hidup untuk menjaga titipan,” ujarnya pelan, Selasa (10/2).

Bagi masyarakat Baduy, adat bukan sekadar tradisi. Ia adalah sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta.

Baduy Luar kerap disebut sebagai wilayah penyangga. Di sinilah interaksi dengan dunia luar lebih intens terjadi. Beberapa warganya sudah mengenal pendidikan formal. Ada yang berdagang kain tenun, madu hutan, souvenir, hingga gula aren kepada pengunjung. Telepon genggam pun mulai terlihat, meski penggunaannya tetap dalam batas tertentu.

Namun menurut Kang Udil, kelonggaran itu bukan berarti kebebasan tanpa batas.

“Walaupun kami di Baduy Luar lebih sering bertemu tamu, aturan adat tetap kuat. Tanah tidak boleh dijual. Hutan tidak boleh ditebang sembarangan. Kami tetap bertani tanpa bahan kimia. Itu tidak boleh berubah,” tegasnya.

Baduy Luar berdiri di garis tipis antara menjaga identitas dan menghadapi realitas. Wisata membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menyimpan risiko. Tidak semua pengunjung memahami aturan itu, seperti larangan memasuki Baduy Dalam tanpa izin, hingga kewajiban menjaga sikap dan ucapan.

“Kami tidak menolak tamu,” kata Kang Udil. “Tapi tamu harus menghormati adat. Kalau adat rusak, kami kehilangan diri kami sendiri.”

Udil dan sekira 10 ribu masyarakat setempat juga yakin bahwa alam memberi solusi sehari-hari, dengan memanfaatkan segala sesuatunya dari alam, untuk makan, hasil bumi, termasuk obat-obatan.

Jauh ke pedalaman, kata Kang Udil, peradaban berubah drastis. Di wilayah Baduy Dalam, tak ada listrik, tak ada kendaraan, tak ada alat elektronik. Pakaian putih dan biru tua mendominasi, simbol kesucian dan kesederhanaan.

Di sini, adat dijalankan dengan ketat. Warga berjalan kaki ke mana pun. Rumah dibangun tanpa paku. Ladang digarap dengan cara turun-temurun. Semua serba cukup, tidak berlebihan.

Baduy Dalam menutup diri bukan karena anti-perubahan, tetapi karena menjaga kemurnian amanat leluhur. Mereka percaya keseimbangan alam adalah bagian dari keseimbangan hidup.

Saat dunia luar berbicara tentang krisis iklim dan eksploitasi sumber daya, masyarakat Baduy Dalam telah lama mempraktikkan hidup berkelanjutan tanpa kampanye politik dan seminar.

“Kami diajarkan untuk tidak rakus,” ujar Kang Udil, merujuk pada prinsip yang sama dijaga baik di Luar maupun Dalam. “Ambil secukupnya, tanam kembali, jaga alam seperti menjaga orang tua.”

Keberadaan Baduy sebagai masyarakat adat tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab pemerintah daerah. Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lebak, Bambang SP, menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak-hak masyarakat Baduy adalah prioritas, semua sudah diatur melalui Peraturan Daerah (Perda).

“Baduy adalah identitas Lebak. Mereka bukan sekadar destinasi wisata, tetapi komunitas adat yang memiliki sistem hukum dan nilai sendiri. Negara wajib hadir untuk melindungi,” kata Bambang.

Ia menekankan pentingnya penguatan regulasi terkait wilayah adat, perlindungan hutan, serta pengawasan terhadap aktivitas luar yang berpotensi mengganggu tatanan kehidupan Baduy.

“Pembangunan tidak boleh memaksa perubahan budaya. Modernisasi harus menghormati batas adat. Pemerintah harus menjadi mitra dialog,” tegasnya.

Menurut Bambang, sinergi antara tokoh adat dan pemerintah daerah menjadi kunci agar Baduy tetap lestari tanpa terisolasi. Akses kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan harus difasilitasi tanpa mengikis nilai adat yang mereka pegang.

Baduy Luar dan Baduy Dalam mungkin berbeda dalam praktik keseharian, tetapi keduanya berpijak pada prinsip yang sama, yakni keseimbangan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, Kanekes berdiri dengan ritmenya sendiri. Tanpa ambisi belebihan, tanpa hiruk-pikuk teknologi. Mereka memilih berjalan ketika dunia berlari.

Di dua wajah Kanekes itu, ada satu janji yang terus dijaga, yakni janji untuk tidak mengkhianati alam dan amanat leluhur.

Dan mungkin, di tengah kegaduhan zaman, kesunyian Baduy justru menjadi pengingat paling lantang, bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar. (Rio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *