Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Taufik Basari: Bhinneka Tunggal Ika Pengikat Kemajemukan

Lampung Selatan (LW): Semboyan Bhinneka Tunggal Ika dinilai masih relevan keberadaannya di Bumi Indonesia. Sebab, kita sebagai rakyat Indonesia membutuhkan satu pengikat yang menjadi identitas kolektif atau identitas bersama kita sebagai sebuah bangsa.

Hal ini ditegaskan Ketua Fraksi NasDem MPR RI Taufik Basari saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Pekon Sidowaluyo, Sidomulyo, Lampung Selatan (18/12).

Dengan kemajemukan suku, ras dan agama seperti ini adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika senantiasa menjadi pengingat bahwasanya Indonesia terdiri dari serangkaian perbedaan yang justru menjadi kekuatan terbesar bangsa kita untuk merdeka dan berdaulat.

“Kemudian terkait penggunaan isu agama dalam politik, tentu saja itu tidak dibenarkan secara moral maupun hukum. Menurut saya 2023-2024 sekarang ini penggunaan isu-isu agama itu adalah cara kuno yang harus ditinggalkan,” ucap Taufik.

Lanjut Taufik, sekarang adalah era politik gagasan. Kita harus paham bahwa politik identitas yang menggunakan modus operandi seperti berita atau konten-konten hoaks, hatespeech atau ujaran kebencian dan kampanye negatif seperti menjelek-jelekan paslon secara subjektif itu bukanlah cara berpolitik yang beretika.

“Untuk itu kita perlu meninggalkan atau paling tidak membatasi kontak dengan partai, organisasi maupun lingkaran masyarakat yang demikian,” ucap Taufik.

Menurutnya juga, Bhinneka adalah kekuatan kita sebagai sebuah bangsa. Dalam menghadapi tahun politik, pertama-tama kita harus menyadari bahwa sesungguhnya keterlibatan kita sebagai warga negara baik menjadi caleg maupun pemilih dalam Pemilu 2024 itu adalah wujud bakti kita kepada bangsa dan negara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, serta perwujudan dari tanggung jawab kita untuk menjaga relasi antar umat beragama.

Untuk itu, nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial harus menjadi pegangan kita dalam bertindak, bertutur kata dan selanjutnya memilih siapa yang akan mewakili kita di parlemen maupun pemerintahan.

“Saat ini kan marak konten-konten hoaks dan kebencian yang tersebar di berbagai media sosial yang dengan mudah dibagikan oleh orang-orang. Terhadap hal tersebut, biasakan untuk tidak mudah membagikan sesuatu sebelum mengecek kebenaran konten tersebut dan memikirkan konsekuensi dari disebarkannya berita tersebut. Bijaklah dalam bermedia sosial, bertutur dan bertindak. Saya rasa itu adalah kuncinya,” pungkasnya. (LW)