MERAH PUTIH bukan hanya sekadar warna. Ia adalah jejak pengorbanan, darah para pejuang, air mata para ibu, dan harapan jutaan rakyat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, Indonesia genap berusia 81 tahun.
Namun bagi Anggota DPRD Provinsi Lampung Fraksi PAN, Imelda, SH, kemerdekaan bukan sekadar angka yang dirayakan setiap 17 Agustus. Kemerdekaan adalah janji yang harus terus dijaga, diisi, dan diperjuangkan agar benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat.
Sebab, apa arti merdeka jika masih ada anak bangsa yang kesulitan mengenyam pendidikan? Apa arti kemerdekaan jika masih ada keluarga yang berjuang mendapatkan kehidupan layak? Dan apa arti pembangunan jika denyutnya belum sampai ke pelosok?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Imelda memandang HUT ke-81 RI bukan sekadar panggung seremoni.
“Jika dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah mengisinya dengan kerja nyata, pengabdian dan keberpihakan kepada rakyat. Kemerdekaan harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Imelda, Minggu (16/8).
Ada pesan kuat di balik kalimat tersebut. Bagi Imelda, setiap kebijakan, setiap program dan setiap keputusan politik pada akhirnya harus kembali kepada satu tujuan, yakni membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik.
Sebagai wakil rakyat sekaligus Ketua PUAN Lampung, Imelda percaya perjuangan membangun Indonesia tidak mengenal satu medan.
Dulu, para pahlawan berjuang dengan senjata dan pengorbanan jiwa. Hari ini, medan perjuangan berubah wajah. Melawan kemiskinan, kebodohan, pengangguran, ketimpangan dan keterbelakangan adalah bentuk perjuangan generasi sekarang.
“Perjuangan belum selesai. Bentuk perjuangannya saja yang berbeda. Hari ini kita berjuang melalui pembangunan, pendidikan, ekonomi, pelayanan publik dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” katanya.
Bagi Imelda, politik juga tidak boleh berhenti pada panggung kekuasaan.
Politik harus memiliki jejak.
Jejak itu bisa berupa pembangunan yang dirasakan masyarakat, pendidikan yang semakin mudah dijangkau, pelayanan kesehatan yang semakin dekat, ekonomi rakyat yang semakin kuat, hingga perempuan yang semakin berdaya.
Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang mendorong kader agar menghadirkan manfaat melalui kerja politik.
“Pak Zulkifli Hasan selalu mengingatkan bahwa politik harus memberikan manfaat kepada masyarakat. Bagi saya, politik yang baik adalah politik yang bisa dirasakan rakyat, bukan hanya dibicarakan di ruang-ruang politik,” tegasnya.
Kalimat itu menjadi kompas bagi Imelda dalam menjalankan amanah sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung.
Sebab baginya, kursi parlemen bukanlah singgasana. Ia adalah tempat untuk mendengar lebih banyak, bekerja lebih keras dan memperjuangkan lebih banyak kepentingan rakyat.
Sebagai Ketua PUAN Lampung, Imelda juga menaruh perhatian besar terhadap peran perempuan dalam pembangunan.
Menurutnya, perempuan bukan sekadar pelengkap. Perempuan adalah kekuatan besar yang mampu menggerakkan keluarga, masyarakat bahkan bangsa.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan semakin kuat. Karena itu, perempuan harus diberi ruang untuk maju, berkarya dan mengambil bagian dalam pembangunan,” ujarnya.
Bagi Imelda, semangat kemerdekaan juga berarti memberikan kesempatan yang sama kepada setiap warga negara untuk tumbuh dan menentukan masa depannya.
Termasuk perempuan.
Delapan puluh satu tahun bukan waktu yang sebentar. Indonesia telah melewati begitu banyak zaman, menghadapi berbagai tantangan dan menorehkan begitu banyak pencapaian. Namun perjalanan itu belum selesai.
Masih ada pekerjaan rumah. Masih ada ketimpangan. Masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian. Masih ada cita-cita para pendiri bangsa yang harus diwujudkan.
Karena itu, Imelda mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan HUT ke-81 RI sebagai momentum untuk kembali menyalakan semangat gotong royong.
Bukan hanya mengibarkan bendera di halaman rumah, tetapi juga mengibarkan semangat kepedulian di tengah masyarakat.
Bukan hanya menyanyikan lagu perjuangan, tetapi meneruskan perjuangan itu melalui karya.
Dan bukan hanya mengucapkan “merdeka”, tetapi memastikan kemerdekaan memiliki arti dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan dan berbeda latar belakang. Tetapi ketika merah putih berkibar, kita adalah satu. Jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa,” katanya.
Imelda percaya Indonesia akan menjadi kuat bukan karena satu orang, satu kelompok atau satu partai.
Indonesia menjadi kuat ketika rakyat dan pemerintah berjalan bersama. Ketika politik bertemu dengan kepedulian. Ketika kekuasaan bertemu dengan tanggung jawab. Dan ketika pembangunan benar-benar menempatkan manusia sebagai tujuan utamanya.
Di situlah kemerdekaan menemukan wajahnya.
Bukan sekadar upacara. Bukan sekadar pidato. Bukan sekadar pesta Agustus.
Tetapi sebuah perjalanan panjang untuk memastikan tidak ada rakyat yang merasa berjalan sendirian di negeri yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata para pendahulunya.
Bagi Imelda, merah putih harus selalu memiliki tempat paling tinggi.
Bukan hanya di tiang bendera.
Tetapi di dada setiap anak bangsa dan di hati setiap orang yang dipercaya mengemban amanah rakyat.
“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Mari kita teruskan perjuangan para pahlawan dengan karya, persatuan dan pengabdian. Karena kemerdekaan yang paling indah adalah ketika rakyat dapat hidup lebih sejahtera, perempuan semakin berdaya dan setiap anak bangsa memiliki harapan untuk masa depan,” pungkas Imelda.
Merah putih berkibar di langit.
Namun kemerdekaan sejatinya hidup ketika semangatnya tumbuh di hati rakyat dan diterjemahkan menjadi kerja nyata. (Rio)











