Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Salat Jangan Dikorbankan, Syukron Muchtar Desak Unila Evaluasi Kegiatan Mahasiswa

Bandarlampung (LW): Dugaan mahasiswa baru tidak diberi ruang untuk menunaikan salat Ashar dalam rangkaian kegiatan mahasiswa di Universitas Lampung (Unila) mendapat sorotan Anggota DPRD Provinsi Lampung Fraksi PKS, M Syukron Muchtar.

Persoalan itu mencuat setelah adanya pengaduan mahasiswa yang menyebut kegiatan mahasiswa baru berlangsung hingga sekitar pukul 17.30 WIB. Meski sejumlah mahasiswa telah menyampaikan keinginan untuk melaksanakan salat Ashar, mereka disebut masih diarahkan mengikuti kegiatan hingga mendekati waktu Magrib.

Syukron menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius pihak kampus. Menurutnya, kegiatan mahasiswa dalam bentuk apa pun tidak boleh mengabaikan hak personal mahasiswa untuk menjalankan ibadah.

“Kegiatan mahasiswa apa pun itu jangan sampai mengabaikan hak-hak personal mahasiswa untuk ibadah,” tegas Syukron (13/8).

Ia meminta pihak rektorat dan dekanat, khususnya di lingkungan fakultas yang menyelenggarakan kegiatan yakni di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), memastikan seluruh aktivitas mahasiswa berjalan dengan tetap menghormati hak dasar peserta.

“Rektorat dan dekanat harus benar-benar memastikan kegiatan mahasiswa tidak terjadi pelanggaran,” ujarnya.

Menurut Syukron, kegiatan mahasiswa baru semestinya menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter. Karena itu, senior atau panitia tidak boleh menggunakan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk bertindak semena-mena.

“Kampus adalah lembaga pendidikan tinggi. Maka jadikan kampus sebagai pusat pendidikan, bukan kesewenang-wenangan,” tegasnya.

Ia juga meminta kampus menindak tegas apabila ditemukan adanya tindakan kakak tingkat atau panitia yang melampaui batas kewenangan dan mengabaikan hak mahasiswa.

“Kampus harus menindak tegas kating yang semena-mena,” katanya.

Syukron berharap pihak Unila segera mengevaluasi pelaksanaan kegiatan mahasiswa baru di FISIP dan FKIP maupun fakultas lainnya serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Baginya, kedisiplinan dalam kegiatan mahasiswa tetap penting, tetapi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan hak dasar peserta.

“Jangan sampai kegiatan kampus justru membuat mahasiswa harus memilih antara mengikuti kegiatan dan menjalankan ibadah,” ujarnya.

Ia menegaskan, kampus seharusnya menjadi ruang pendidikan yang membangun karakter, kedisiplinan, toleransi dan penghormatan terhadap hak setiap mahasiswa. “Jangan jadikan kegiatan kampus sebagai alasan untuk mengabaikan hak mahasiswa. Kampus harus mendidik, membentuk karakter, dan menghormati setiap hak mahasiswa, termasuk hak untuk beribadah,” tegas Syukron. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *