Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Pulung Kencana Mengadu, Putra Jaya Umar Siap Kawal Jalan dan Sumur Bor

Tulangbawang Barat (LW): Jalan rusak, drainase yang belum tuntas hingga ancaman kekeringan menjadi suara yang paling keras dalam reses Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil VI, Putra Jaya Umar, di Tiyuh Pulung Kencana, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tulangbawang Barat (Tubaba), Rabu (12/8).

Warga tak sekadar menyampaikan keluhan, tetapi menitipkan harapan agar pembangunan yang selama ini dinilai tertinggal benar-benar mendapat perhatian dan segera diwujudkan.

Kepala Tiyuh Pulung Kencana, Hendarwan, menyampaikan apresiasi atas perhatian Putra Jaya Umar yang dinilainya konsisten turun dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.

“Terima kasih sudah berkali-kali memberikan perhatian kepada masyarakat Pulung Kencana. Ini bagian dari menjaring aspirasi masyarakat,” ujar Hendarwan.

Ia mengungkapkan, RK 5 dan RK 1 selama ini masih membutuhkan perhatian serius dalam pembangunan. Namun, sejak dirinya menjabat, berbagai upaya mulai dilakukan untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur.

“RK 5 dan RK 1 seperti dianaktirikan. Tapi selama saya menjabat, infrastruktur sudah saya perjuangkan, termasuk diaspal,” katanya.

Menurut Hendarwan, perhatian terhadap masyarakat juga telah menghasilkan sejumlah bantuan. Salah satunya bantuan listrik gratis bagi 28 rumah warga.

“Selama ini saya didampingi Pak Putra Jaya Umar. Kami minta bantuan, baik ke provinsi maupun ke pusat,” ungkapnya.

Ia juga menyebut keberadaan kantor Posyandu sebagai salah satu hasil perjuangan yang cukup berarti bagi masyarakat Pulung Kencana.

“Seumur hidup belum ada kantor Posyandu. Sekarang sudah ada dan itu juga saya perjuangkan,” ujarnya.

Meski sejumlah pembangunan mulai dirasakan, kebutuhan masyarakat masih cukup banyak. Warga meminta bantuan sumur bor untuk mengatasi persoalan kekeringan serta peningkatan kualitas jalan melalui pembangunan jalan hot mix.

Warga setempat, Sumidi, secara khusus meminta perbaikan jalan tembus RK 5 menuju RK 6 sepanjang sekitar 150 meter.

“Jalan tembus RK 5 ke RK 6 sekitar 150 meter itu mohon diperbaiki,” pintanya.

Aspirasi serupa disampaikan Martijo. Ia menyoroti drainase di RK 5 yang belum selesai serta kondisi jalan yang menurutnya belum pernah mendapatkan pengaspalan.

“RK 5 di sini seperti dianaktirikan, belum pernah diaspal,” ujarnya.

Martijo juga meminta perhatian terhadap perempatan Pulung Kencana yang dinilai rawan kecelakaan. Ia mengusulkan adanya fasilitas keselamatan untuk mengurangi risiko kecelakaan di kawasan tersebut.

Menanggapi aspirasi warga, Putra Jaya Umar menegaskan bahwa dirinya tidak ingin reses berhenti sebatas mendengar keluhan. Setiap usulan akan dibawa untuk diperjuangkan melalui jalur penganggaran pemerintah.

Putra mengakui Pulung Kencana kini mengalami kemajuan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Kondisi di sini sudah berbeda, lebih maju,” kata Putra.

Namun, Anggota Komisi I DPRD Lampung ini menyadari masih ada kebutuhan dasar yang harus diselesaikan, terutama terkait infrastruktur jalan.

Putra mengungkapkan, dirinya telah mengusulkan Pulung Kencana menjadi salah satu titik program perbaikan jalan lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung.

“Saya usulkan di Daya Murni dan Pulung. Saya minta realisasi segera, 2027 mendatang,” tegas Ketua Golkar Tubaba ini.

Ia mengatakan, rencana tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini mengeluhkan kondisi jalan.

Namun, Putra juga menyiapkan langkah alternatif apabila usulan tersebut belum dapat terealisasi melalui anggaran pemerintah.

“Andaikata tidak terealisasi, kita gotong royong. Saya belikan batu, kita semua kerja. Nanti saya juga turun,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan komitmennya agar persoalan jalan tidak berhenti karena keterbatasan anggaran.

Untuk persoalan drainase, Putra memastikan akan mengusulkannya dalam pembahasan lebih lanjut. Ia juga mengaku terus menjalin komunikasi dengan Anggota DPR RI Hanan A. Rozak untuk ikut mengawal kebutuhan pembangunan di wilayah tersebut.

Sementara terkait usulan pembangunan tugu di perempatan yang rawan kecelakaan, Putra justru meminta agar aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama.

“Kalau bisa jangan ada tugu di tempat ini. Rawan kecelakaan. Kalau traffic light atau lampu jalan, bisa,” jelasnya.

Persoalan waktu pembangunan jalan kemudian dipertanyakan warga. Sumani meminta alasan mengapa pembangunan harus menunggu 2027, sementara kondisi jalan membutuhkan penanganan segera.

Putra menjelaskan, penganggaran tahun berjalan sudah tidak memungkinkan untuk memasukkan program tersebut.

“Anggaran tahun ini dihentikan. Saya berusaha tahun mendatang, insyaallah. Tapi tenang saja, nanti saya bantu pribadi,” jawabnya.

Aspirasi mengenai sumur bor juga mendapat respons langsung. Saat RT Darwanto meminta bantuan sumur bor, Putra menyatakan kesiapannya untuk memperjuangkannya.

“Insyaallah ada,” tegas Putra.

Ia mengatakan persoalan kekeringan menjadi salah satu aspirasi yang akan segera diteruskan kepada pemerintah provinsi.

“Sumur bor nanti kita cepat minta. Hasil reses ini kita sampaikan ke TAPD. Kalau bisa dianggarkan dari provinsi untuk bantuan sumur bor,” ujarnya.

Bagi Putra, reses merupakan momentum untuk memastikan suara masyarakat benar-benar masuk dalam agenda pembangunan. Aspirasi yang disampaikan warga, menurutnya, harus memiliki tindak lanjut yang jelas.

Di Pulung Kencana, warga telah menyampaikan kebutuhan mereka secara terbuka, yakni jalan yang layak, drainase yang tuntas, air bersih yang tersedia dan lingkungan yang lebih aman.

Kini, bola berada di tangan para pemangku kebijakan untuk mengubah aspirasi tersebut menjadi pembangunan nyata. Sebab bagi masyarakat, pembangunan bukan sekadar janji di atas kertas. Mereka menunggu jalan yang benar-benar mulus, air yang benar-benar mengalir, dan perhatian pemerintah yang benar-benar terasa. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *