Mesuji (LW): Kabupaten Mesuji bersiap menjadi pusat pembinaan sepak bola usia muda di Provinsi Lampung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kabupaten berjuluk Bumi Ragab Begawe Caram itu dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan tiga kategori usia sekaligus pada ajang resmi Piala Suratin Provinsi Lampung.
Kepercayaan tersebut menjadi tonggak baru bagi dunia olahraga Mesuji sekaligus membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kedatangan ribuan atlet, ofisial, dan pendukung dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung.
Ketua PSSI Kabupaten Mesuji yang juga Anggota DPRD Provinsi Lampung, Budi Yuhanda, mengatakan penunjukan Mesuji sebagai tuan rumah merupakan hasil proses bidding yang dilakukan setelah seluruh pertandingan babak regional rampung digelar di sembilan regional dengan melibatkan 12 kabupaten.
“Dari hasil keputusan Asprov PSSI Lampung, Kabupaten Mesuji dipercaya menjadi tuan rumah tiga kategori usia sekaligus. Ini merupakan sejarah baru karena baru pertama kali Mesuji menyelenggarakan event resmi PSSI dengan tiga kategori dalam satu pelaksanaan,” ujar Budi, Kamis (6/8).
Menurutnya, penyelenggaraan Piala Suratin bukan sekadar kompetisi sepak bola, tetapi menjadi investasi jangka panjang dalam membangun ekosistem olahraga sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Harapan kami, event ini tidak hanya melahirkan prestasi olahraga, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. UMKM, pedagang, jasa transportasi hingga tempat penginapan akan ikut merasakan manfaat dari kedatangan ribuan peserta,” katanya.
Piala Suratin merupakan kompetisi resmi PSSI yang menjadi bagian dari pembinaan pemain usia dini nasional. Turnamen tahun ini akan berlangsung pada 9 hingga 22 Agustus 2026 dengan mempertandingkan kelompok usia 13 hingga 17 tahun.
Budi menegaskan, pembinaan usia muda harus menjadi fondasi utama jika Lampung ingin memiliki pesepak bola yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Target kami bukan hanya sukses sebagai penyelenggara atau menjadi juara di tingkat provinsi. Yang lebih penting adalah melahirkan bibit-bibit pesepak bola berkualitas yang nantinya mampu membawa nama Lampung di level nasional bahkan menjadi bagian dari masa depan sepak bola Indonesia,” ungkapnya.
Di balik persiapan besar tersebut, panitia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Musim kemarau menyebabkan rumput di lapangan desa yang menjadi venue pertandingan mengering karena minimnya curah hujan dan belum tersedianya sistem irigasi.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat panitia dan pemerintah daerah.
Setiap hari, lapangan disiram secara manual menggunakan mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Mesuji. Sejumlah perusahaan juga turut membantu penyediaan pasokan air agar kualitas lapangan tetap memenuhi standar pertandingan.
“Kami bekerja ekstra setiap hari. Rumput mengering akibat kemarau, sehingga penyiraman dilakukan secara manual dengan dukungan mobil pemadam kebakaran dan bantuan air dari berbagai pihak. Kami ingin seluruh pertandingan berlangsung di lapangan yang layak,” jelas Budi.
Selain persoalan lapangan, keterbatasan hotel menjadi tantangan lain yang harus dihadapi panitia. Untuk mengatasinya, masyarakat Mesuji bergotong royong menyediakan rumah mereka sebagai tempat menginap bagi tim peserta.
Langkah tersebut mendapat sambutan positif dari warga yang ingin ikut berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan Piala Suratin.
Diperkirakan ribuan orang akan memadati Mesuji selama turnamen berlangsung. Setiap kategori diikuti 16 tim dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung. Satu tim terdiri dari sekitar 18 pemain, ditambah pelatih, ofisial, dan pendamping sehingga jumlah rombongan mencapai 40 hingga 50 orang.
Kehadiran ribuan tamu itu diyakini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal, mulai dari sektor kuliner, perdagangan, transportasi hingga usaha penginapan milik masyarakat.
Budi juga mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Mesuji dalam mempersiapkan penyelenggaraan Piala Suratin. Berbagai fasilitas daerah dikerahkan untuk memastikan seluruh kebutuhan teknis dapat terpenuhi.
Alat berat diturunkan untuk meratakan lapangan, mobil pemadam kebakaran dimanfaatkan untuk penyiraman rumput, sementara berbagai organisasi perangkat daerah ikut terlibat dalam mendukung kelancaran pelaksanaan turnamen.
Tak hanya itu, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Satpol PP, Dinas Perhubungan, serta berbagai elemen masyarakat juga bergotong royong membantu tanpa harus diminta.
“Ini bukan hanya kerja PSSI, tetapi kerja bersama seluruh masyarakat Mesuji. Dukungan luar biasa dari pemerintah daerah dan warga menjadi modal besar untuk menyukseskan event resmi PSSI ini. Kami ingin seluruh peserta pulang dengan pengalaman terbaik sekaligus melihat bahwa Mesuji mampu menjadi tuan rumah event olahraga berskala besar,” tutup Budi. (LW)











