Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Mikdar: Bioetanol Jadi Motor Baru Ekonomi Lampung

Bandarlampung (LW): Dari kebun singkong hingga mesin industri, Lampung mulai membangun mata rantai ekonomi baru. Pengembangan pabrik pengolahan bioetanol di Pesawaran dinilai menjadi salah satu terobosan yang dapat mempertemukan kepentingan petani, industri, lapangan kerja, dan ketahanan energi dalam satu ekosistem.

Anggota Komisi II DPRD Lampung Mikdar Ilyas menyambut positif langkah tersebut. Ia menilai pengembangan bioetanol bukan sekadar pembangunan industri baru, tetapi membuka pasar yang lebih luas bagi komoditas pertanian Lampung.

“Ini salah satu terobosan yang sangat bagus dan brilian dari Gubernur Lampung. Ini perlu kita dukung karena manfaatnya sangat besar,” kata Mikdar, Senin (21/9).

Menurutnya, Lampung memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku. Singkong, jagung, tebu hingga sorgum dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri bioetanol.

Artinya, petani tidak lagi hanya berhenti pada produksi. Hasil panen memiliki peluang untuk masuk ke industri pengolahan dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

“Tempat untuk menjual hasil pertanian seperti singkong, jagung, tebu, dan sorgum sudah tersedia. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.

Mikdar menilai semakin banyak industri pengolahan juga membuka ruang persaingan yang lebih sehat dalam menyerap hasil pertanian.

Petani pun memiliki lebih banyak pilihan pasar dan tidak hanya bergantung pada satu pembeli.

“Kalau pabriknya itu-itu saja, masyarakat tidak punya banyak pilihan. Dengan adanya persaingan, petani memiliki tempat lain untuk menjual hasil pertaniannya,” katanya.

Bagi Mikdar, efeknya tidak berhenti di sektor pertanian. Ketika industri tumbuh, kebutuhan tenaga kerja ikut terbuka. Aktivitas ekonomi meningkat, sementara hasil pertanian memiliki kepastian pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, bioetanol juga dinilai memiliki relevansi dengan upaya memperkuat ketahanan energi. Bahan bakar berbasis nabati dapat dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi energi dan bahan campuran bensin sesuai kebijakan dan standar yang berlaku.

“Dalam kondisi seperti sekarang, langkah ini juga membantu pemerintah pusat, terutama dari sisi daerah,” ujarnya.

Mikdar berharap pengembangan industri berbasis komoditas lokal tidak berhenti di satu proyek. Menurutnya, Lampung membutuhkan lebih banyak hilirisasi agar komoditas pertanian tidak hanya keluar dalam bentuk bahan mentah.

Ia juga mengapresiasi arah kebijakan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang dinilai mendorong keterhubungan antara pertanian, industri, investasi dan penciptaan lapangan kerja.

“Kalau petani punya pasar, industri bergerak, lapangan kerja terbuka dan energi kita semakin kuat, maka yang tumbuh bukan hanya pabriknya, tetapi ekonomi Lampung,” tegas Mikdar. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *