Tulangbawang (LW): Matahari mulai condong ke ufuk barat ketika deru mesin alat berat masih terdengar dari hamparan kebun tebu di Desa Gunung Katun, Tulangbawang Barat. Sore itu, di antara barisan tebu yang menguning dan lalu-lalang truk pengangkut hasil panen, Putra Jaya Umar tampak larut dalam aktivitas perkebunan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya jauh sebelum ia duduk di kursi DPRD Provinsi Lampung.
Tak ada suasana kaku seperti di ruang rapat. Tak ada jarak seperti yang terkadang tercipta antara pejabat dan wartawan. Di kebun itu, Putra justru terlihat lepas. Sesekali ia melempar kelakar, bercanda ria bersama awak media, lalu beralih bercerita tentang kebun, petani, hingga pengalaman hidupnya.
Senyumnya nyaris selalu mengiringi percakapan.
Begitulah Putra dikenal oleh wartawan yang kerap bertemu dengannya, sosok yang mudah diajak berbincang, humble, suka bercerita dan tak segan memplesetkan kata-kata untuk mencairkan suasana.
Bahkan, ketika pembicaraan mulai terlalu serius, ia kerap menyelipkan humor. Ada saja bahan candaan yang membuat suasana kembali ringan.
Soal penampilan dan latar dirinya pun tak luput dari gurauan. Putra mengaku kerap disebut memiliki etnis Tionghoa karena parasnya. Namun, dengan gaya bercanda khasnya, ia justru mengaku sebagai keturunan Arab.
Candaan itu bukan untuk membangun kesan tertentu. Ia hanya menunjukkan satu sisi Putra yang mungkin jarang terlihat dari ruang sidang, yakni seorang politisi yang menikmati percakapan, senang berinteraksi dan nyaman berada di tengah masyarakat maupun wartawan.
Namun di balik tawa dan kelakar itu, Putra menyimpan keseriusan ketika berbicara tentang pertanian.
Putra merupakan Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI yang meliputi Mesuji, Tulangbawang dan Tulangbawang Barat. Namun, ketika berada di kebun, atribut politik seolah berada jauh di belakang.
Yang tampak adalah seorang petani yang berbicara tentang tanah dengan bahasa pengalaman.
“Sehari-hari saya, selain di kantor, ya berkebun seperti ini. Haiyaaa,” kata Putra, tetap berkelakar dengan gaya bicara etnis Tionghoa.
Bagi Putra, kebun bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Di sanalah ia melihat langsung bagaimana tanah menghidupi masyarakat, bagaimana jalan menentukan ongkos produksi, bagaimana air menentukan nasib tanaman, dan bagaimana setiap batang tebu membawa harapan bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Perkebunan tebu yang dikelola bersama keluarganya mampu menyerap hingga ratusan tenaga kerja masyarakat sekitar. Sebagian kendaraan dan peralatan juga melibatkan masyarakat agar aktivitas perkebunan ikut menggerakkan ekonomi keluarga mereka.
“Tenaga kerja kita berdayakan masyarakat di sekitar sini,” ujarnya.
Putra dan keluarganya juga membangun kemitraan dengan PT Gunung Madu dan PT PSMI. Melalui pola tersebut, petani memperoleh akses modal, pendampingan tenaga ahli serta dukungan alat transportasi dan alat muat.
“Modal kita dipinjami, lalu tenaga ahli mereka mendampingi. Kalau kita masih kekurangan alat transportasi dan alat muat, kita dipinjami juga. Bayarnya nanti setelah panen,” jelasnya.
Ia melihat tebu memiliki masa depan yang kuat karena kebutuhan gula nasional masih besar. Menurutnya, produksi gula dalam negeri baru memenuhi sekitar separuh kebutuhan nasional sehingga ruang pengembangan komoditas tersebut masih terbuka.
Tetapi Putra juga tahu, bertani bukan hanya soal menanam dan memanen.
Ada jalan yang harus dilalui.
Bersama keluarga dan para pemilik kebun, ia mengeluarkan sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki jalan sepanjang kurang lebih tujuh kilometer menuju areal perkebunan tebu keluarga seluas sekitar 260 hektare.
“Kalau enggak kita perbaiki, kita mengeluarkan hasil panennya susah. Mobil juga akhirnya ongkosnya jadi mahal,” katanya.
Dari pengalaman itu, Putra memahami bahwa jalan usaha tani bukan sekadar infrastruktur. Jalan adalah bagian dari biaya produksi dan menentukan seberapa cepat hasil panen bisa sampai ke pabrik.
Selain tebu, ia juga mengembangkan sawit. Menurut Putra, prospek sawit tetap menjanjikan, terutama dengan kebutuhan CPO nasional yang terus berkembang.
Kuncinya, kata dia, sederhana tetapi tidak mudah, yakni perawatan yang disiplin.
“Pupuknya harus kuat dan tepat waktu, serta terhindar dari hama penyakit. Kalau itu terpenuhi, hasilnya bisa bagus,” ujar Ketua Partai Golkar Tubaba ini.
Di balik optimisme tersebut, tantangan tetap ada. Kapasitas giling pabrik gula yang terbatas membuat petani baru sulit masuk dalam pola kemitraan.
“Kapasitas giling pabrik itu terbatas, sehingga dia tidak bisa menambah mitra lagi,” ungkapnya.
Rencana pembangunan pabrik baru pun menjadi harapan agar daya serap tebu meningkat dan lebih banyak petani memperoleh akses pasar.
Persoalan air juga menjadi tantangan tersendiri ketika kemarau datang.
Petani harus mencari embung terdekat atau menunggu hujan. Bantuan sumur bor dari pemerintah telah diupayakan, tetapi realisasinya diperkirakan baru menjelang akhir tahun.
“Kalau enggak, ya kita tunggu hujan,” kata Putra.
Bagi Putra, kebutuhan petani tidak mengenal kata nanti. Tanaman terus tumbuh, sementara air dibutuhkan setiap hari.
Pengalaman bertani sejak sebelum menjadi anggota DPRD membuat perspektif Putra terhadap persoalan masyarakat terasa dekat. Ia tidak hanya mendengar keluhan petani, tetapi masih menjalani sendiri bagaimana sulitnya mengangkut hasil panen, menghadapi kekeringan dan menghitung biaya produksi.
Itulah pengalaman yang kemudian ia bawa ke gedung dewan.
Di kebun, Putra adalah petani. Di gedung dewan, ia menjadi wakil rakyat. Dua dunia berbeda yang bertemu pada satu kepentingan, yakni bagaimana masyarakat bisa bekerja, menghasilkan dan hidup lebih sejahtera.
Sore semakin tua di Desa Gunung Katun. Matahari perlahan tenggelam di balik hamparan tebu. Putra masih tersenyum, kembali melempar satu-dua candaan kepada wartawan di sela pembicaraan serius.
Di sanalah sosoknya terasa lengkap.
Seorang politisi yang tetap akrab dengan tanah. Wakil rakyat yang tidak meninggalkan akar kehidupannya. Dan pribadi yang memilih membawa pengalaman dari kebun ke ruang kebijakan.
Sebab politik, bagi Putra, bukan hanya tentang berbicara atas nama rakyat.
Politik adalah memahami bagaimana rakyat bekerja.
Dan Putra memilih memahaminya dari tanah.
Haiyaa..











