Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Pancasila dari Dapur SPPG

Tanggamus (LW) Nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya diucapkan dalam forum resmi. Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata, termasuk melalui pelayanan kepada masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Lampung Daerah Pemilihan (Dapil) IV Tanggamus, Pesisir Barat dan Lampung Barat, Heni Susilo, saat melaksanakan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bersama relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kelompok tani (poktan) di wilayah Gunung Alip dan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Minggu (16/8).

Heni menegaskan, keberadaan relawan SPPG memiliki makna lebih besar dari sekadar menyiapkan dan membagikan makanan. Di balik aktivitas tersebut terdapat nilai gotong royong, kepedulian, tanggung jawab dan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan bagian penting dari pengamalan Pancasila.

“Relawan SPPG bukan sekadar memasak dan membagikan makanan, tetapi sedang menjalankan nilai Pancasila dalam bentuk pelayanan nyata,” kata Heni.

Menurutnya, masyarakat tidak selalu bertemu langsung dengan pejabat negara. Namun, kehadiran negara dapat dirasakan melalui pelayanan yang diterima masyarakat setiap hari.

Karena itu, Heni menyebut relawan SPPG sebagai wajah negara di tengah masyarakat.

“Relawan SPPG adalah wajah negara di masyarakat. Anak-anak, guru, orang tua dan masyarakat mungkin tidak bertemu pejabat negara setiap hari, tetapi mereka merasakan kehadiran negara melalui pelayanan SPPG,” ujarnya.

Heni menekankan, predikat tersebut membawa tanggung jawab besar. Setiap pelayanan yang diberikan harus mencerminkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Keramahan dalam melayani, disiplin menjalankan tugas, menjaga kebersihan, ketepatan waktu serta kejujuran, kata dia, bukan sekadar standar operasional. Semua itu merupakan bagian dari praktik nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Keramahan, disiplin, kebersihan, ketepatan waktu dan kejujuran relawan menjadi bagian dari wajah pelayanan publik,” tegasnya.

Ia berharap sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi penguat kesadaran bersama bahwa pembangunan bangsa dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Dalam konteks pelayanan pemenuhan gizi, lanjut Heni, kualitas makanan memang penting. Namun, kualitas pelayanan dan integritas orang-orang yang menjalankannya juga tidak kalah penting.

Sementara itu, keterlibatan kelompok tani dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong sekaligus membangun keterhubungan antara sektor pangan, pelayanan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia.

Heni menilai, ketika petani, relawan pelayanan gizi dan masyarakat bergerak bersama, nilai kebangsaan tidak lagi berhenti sebagai teori. Pancasila menjadi energi sosial yang tumbuh dari masyarakat dan dirasakan langsung manfaatnya.

“Pancasila harus kita hidupkan dalam pekerjaan dan pelayanan sehari-hari. Ketika kita bekerja dengan disiplin, jujur, bersih, tepat waktu dan penuh kepedulian, di situlah nilai Pancasila benar-benar hadir,” pungkasnya. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *