Bandarlampung (LW): Pancasila bukan sekadar rangkaian lima sila yang dihafalkan sejak bangku sekolah. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi, nilai-nilai Pancasila justru harus semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil Bandarlampung, H. Andika Wibawa Sepulau Raya, S.E., M.M., di Jalan Kyai Agus Anang, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung, Minggu (16/8).
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kembali pemahaman masyarakat terhadap ideologi negara sekaligus menanamkan pentingnya wawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sosialisasi tersebut menghadirkan Rohid dan Imam Santoso, SH sebagai narasumber.
Bagi Andika Wibawa, pembinaan ideologi Pancasila memiliki arti penting di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap nilai, persatuan dan karakter kebangsaan.
Karena itu, pemahaman terhadap Pancasila tidak boleh berhenti pada ruang kelas maupun forum seremonial. Nilainya harus diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.
Gotong royong, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah serta memperlakukan sesama secara adil merupakan contoh sederhana bagaimana Pancasila dapat hadir di tengah masyarakat.
Wawasan kebangsaan pun menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Masyarakat perlu memiliki kesadaran bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.
“Lingkungan masyarakat merupakan ruang paling dekat untuk menghidupkan nilai-nilai kebangsaan. Ketika masyarakat mampu menjaga kerukunan, saling menghormati dan bergotong royong menyelesaikan persoalan bersama, sesungguhnya nilai Pancasila telah bekerja dalam kehidupan nyata,” tegas Anggota Komisi V DPRD Lampung ini.
Andika juga mendorong agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan. Kemampuan menyaring informasi dan bersikap bijak di tengah derasnya arus informasi menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
Pancasila, dengan demikian, bukan sekadar simbol negara. Ia menjadi fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang rukun, demokratis dan berkeadilan.
Menjaga persatuan di lingkungan tempat tinggal, menghormati perbedaan, membantu sesama dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah adalah bentuk nyata menjaga Indonesia.
Sebab, Pancasila akan tetap kuat bukan karena sering diucapkan, tetapi karena nilai-nilainya terus hidup dalam tindakan masyarakat. (*)











