Bandarlampung (LW): Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung meningkatkan status kewaspadaan menghadapi dampak fenomena El Niño yang diprediksi mencapai puncaknya pada September 2026. Ancaman yang dihadapi tidak hanya kekeringan, tetapi juga potensi gagal panen, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengatakan hasil analisis hidrometeorologi menunjukkan fase awal El Niño telah mulai dirasakan sejak Juni. Intensitas musim kemarau diperkirakan terus meningkat seiring menurunnya curah hujan di berbagai wilayah.
“Penurunan curah hujan membuat sebagian besar wilayah Lampung berpotensi mengalami kondisi sangat kering. Ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rudy, Selasa (4/8).
Sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional, Lampung dinilai sangat rentan terhadap dampak El Niño. BPBD mengingatkan ancaman terbesar adalah terganggunya produktivitas pertanian akibat berkurangnya ketersediaan air.
Kondisi tersebut juga mulai tercermin dari meningkatnya kemunculan titik panas (hotspot). Berdasarkan data NASA FIRMS per 3 Agustus 2026 pukul 12.22 WIB, kategori anomali sedang terdeteksi di Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Tengah masing-masing tiga titik, Way Kanan satu titik, serta Mesuji satu titik. Sementara kategori anomali rendah tersebar di Way Kanan delapan titik, Tulang Bawang tujuh titik, Lampung Timur empat titik, Mesuji dua titik, Pesisir Barat dua titik, Tanggamus dua titik, Lampung Tengah dua titik, Tulang Bawang Barat dua titik, Pesawaran dua titik, Lampung Utara dua titik, dan Pringsewu satu titik.
Meski belum terdapat hotspot berkategori tinggi maupun sangat tinggi, Rudi menegaskan kondisi tersebut harus menjadi sinyal peringatan dini agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan berskala besar.
Hingga Juli 2026, BPBD juga telah menerima laporan kejadian kebakaran lahan. Berdasarkan identifikasi awal, sebagian besar dipicu aktivitas manusia seperti pembakaran sampah dan puntung rokok di area terbuka. Kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau panjang membuat api lebih mudah membesar dan menyebar.
Di sisi lain, dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat. Penurunan debit air sumur dilaporkan di sejumlah wilayah, bahkan beberapa daerah mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Salah satunya terjadi di Kecamatan Pidada, Kota Bandar Lampung, yang mengalami berkurangnya pasokan air bagi warga.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Provinsi Lampung menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak.
“OMC menjadi salah satu opsi strategis karena cakupan manfaatnya luas. Harapannya dapat menjaga ketersediaan air selama musim kemarau, mengurangi risiko gagal panen, sekaligus menekan potensi konflik akibat keterbatasan sumber daya air,” kata Rudy.
Selain itu, BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota terus mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Koordinasi juga dilakukan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung dan instansi terkait guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Rudy mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah di ruang terbuka serta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
“Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak El Niño. Kesiapsiagaan sejak dini adalah langkah terbaik agar ancaman kekeringan, gagal panen, dan karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar,” tegasnya. (LW)











