Bandarlampung (LW): Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung mengkritik penyelenggaraan Festival Krakatau 2026 yang dinilai masih didominasi kegiatan seremonial dan hiburan, namun minim muatan edukasi tentang sejarah letusan Gunung Krakatau 1883 yang menjadi dasar lahirnya festival tersebut.
Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan Festival Krakatau semestinya tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran publik mengenai sejarah, kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan.
“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan, tetapi harus menjadi tuntunan. Letusan Krakatau 1883 bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pelajaran besar tentang bencana, lingkungan, dan kemanusiaan,” ujar Mufid, Kamis (23/7).
Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 di Lapangan Saburai, Bandar Lampung, sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN). Beragam kegiatan telah disiapkan, mulai dari festival band, solo song, dance, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, festival mewarnai, karnaval budaya, pertunjukan seni, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, hingga pameran seni dan kerajinan.
Namun, menurut Klasika, kemeriahan agenda tersebut belum diimbangi ruang edukasi yang mengupas makna historis letusan Krakatau dari perspektif masyarakat Lampung.
Sebagai langkah penguatan, Klasika mengusulkan Pemerintah Provinsi Lampung menghadirkan Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Naskah itu merupakan dokumentasi langka yang merekam secara rinci dampak letusan Gunung Krakatau 1883 dari sudut pandang masyarakat lokal.
“Teks ini adalah reportase pribumi yang merekam kedahsyatan letusan Krakatau. Isinya memadukan catatan sejarah, ilmu pengetahuan, sekaligus nilai jurnalistik yang sangat penting,” kata Mufid.
Menurutnya, Syair Lampung Karam merupakan warisan intelektual yang layak diangkat sebagai materi edukasi publik. Melalui naskah tersebut, masyarakat tidak hanya memahami sejarah Krakatau, tetapi juga membangun literasi kebencanaan berbasis pengalaman masyarakat Lampung.
Klasika mengingatkan, jika aspek edukasi terus diabaikan, Festival Krakatau berpotensi kehilangan ruhnya dan hanya menjadi agenda hiburan tahunan.
“Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai nama festival, tetapi melupakan tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” tegasnya.
Karena itu, Klasika mendorong Pemprov Lampung memasukkan agenda edukasi secara lebih serius dalam Festival Krakatau melalui diskusi publik, pameran arsip sejarah, pemutaran film dokumenter, hingga kolaborasi dengan akademisi dan peneliti, agar festival tidak sekadar meriah, tetapi juga memperkuat kesadaran sejarah masyarakat. (LW)











