Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Ketika Warga Menjadi Kontraktor Negerinya Sendiri

Pesisir Barat (LW): Di setiap hari Selasa, suasana di Pedukuhan Sukajadi, Desa Penengahan, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, berubah. Bukan karena ada pesta atau perayaan, melainkan karena puluhan warga berkumpul membawa cangkul, sekop, gerobak, dan karung semen. Mereka datang bukan untuk membangun rumah, melainkan memperbaiki jalan yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan.

Jalan itu bukan sekadar hamparan tanah dan bebatuan. Ia menjadi penghubung Sukajadi dengan Pedukuhan Rindu Alam, Bumi Rahayu, hingga Bumi Harta. Setiap pagi, roda sepeda motor para pelajar melintas di sana menuju TK, SD, SMP, hingga SMA. Siang harinya, jalan yang sama menjadi lintasan petani mengangkut kopi, lada, dan berbagai hasil bumi menuju pasar.

Ketika hujan turun, jalan berubah licin dan berlumpur. Saat kemarau datang, debu mengepul mengikuti setiap kendaraan yang melintas. Namun bagi warga, menunggu bantuan bukan lagi pilihan.

Mereka memilih bergerak.

Secara swadaya, warga bergotong royong memperbaiki jalan. Pasir diperoleh melalui kerja bersama, sementara semen dibeli dari hasil iuran sukarela. Setiap kepala keluarga menyisihkan sekitar Rp50 ribu. Jika belum cukup, mereka kembali patungan hingga material yang dibutuhkan terpenuhi.

“Bagi kami ini jalan utama. Anak-anak sekolah lewat sini, hasil bumi juga lewat sini. Kalau tidak kami perbaiki sendiri, kasihan semuanya,” ujar salah seorang warga.

Semangat kebersamaan itulah yang mendapat perhatian Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil IV (Pesisir Barat, Lampung Barat, dan Tanggamus), Imelda SH. Politisi Fraksi PAN yang juga Ketua PUAN Lampung itu mengaku terharu melihat kepedulian masyarakat menjaga akses yang menjadi denyut kehidupan desa.

Menurut Imelda, gotong royong yang dilakukan warga merupakan cerminan kuatnya solidaritas masyarakat pedesaan. Namun di sisi lain, kondisi itu juga menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam pemerataan pembangunan infrastruktur.

“Saya sangat mengapresiasi semangat warga yang rela menyisihkan tenaga, waktu, bahkan uang mereka sendiri demi memperbaiki jalan. Ini menunjukkan rasa memiliki yang luar biasa terhadap kampungnya,” kata Imelda, Minggu (2/8).

Meski demikian, ia menegaskan semangat gotong royong tidak boleh menjadi alasan pemerintah mengurangi tanggung jawabnya. Jalan tersebut merupakan akses vital yang menopang pendidikan, mobilitas masyarakat, hingga roda perekonomian desa.

“Sudah saatnya pemerintah daerah memberikan perhatian serius. Jalan ini bukan hanya menghubungkan beberapa pedukuhan, tetapi juga menjadi akses utama anak-anak menuju sekolah dan jalur distribusi hasil pertanian masyarakat. Negara harus hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan infrastruktur yang layak,” tegasnya.

Bagi warga Sukajadi, setiap karung semen yang mereka beli bukan sekadar material bangunan. Di dalamnya tersimpan harapan agar anak-anak bisa berangkat sekolah dengan aman, petani lebih mudah menjual hasil panennya, dan desa mereka tak lagi tertinggal karena jalan yang rusak.

Di tengah keterbatasan, mereka membuktikan bahwa gotong royong masih hidup. Kini, harapan mereka sederhana, bahwa semangat warga tidak berjalan sendirian, tetapi disambut dengan kehadiran pemerintah yang benar-benar membangun. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *