Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Langit Biru di Sukadana, Jejak Pengabdian Seperempat Abad Demokrat

Lampung Timur (LW): Langit pagi di atas Islamic Center Sukadana tampak cerah ketika ratusan orang berpakaian biru membaur dengan masyarakat. Tak ada sekat jabatan, tak ada perbedaan status, hanya semangat gotong royong, membersihkan ruang publik sebagai cara sederhana merawat lingkungan sekaligus memaknai seperempat abad perjalanan Partai Demokrat.

Kader dan simpatisan berdampingan dengan petugas kebersihan, aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM, pemuda, hingga warga sekitar. Tak ada barisan depan atau belakang. Semua menyatu dalam satu pekerjaan yang sederhana, namun sering kali terlupakan, yakni membersihkan lingkungan.

Bagi sebagian orang, memungut sampah mungkin pekerjaan biasa. Namun di pelataran Islamic Center pagi itu, setiap sampah yang diangkat seolah menjadi simbol bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari pidato panjang, melainkan dari kesediaan mengotori tangan sendiri.

Gerakan Langit Biru Indonesia Asri menjadi cara Partai Demokrat memperingati usia ke-25. Sebuah gerakan nasional yang digelar serentak di berbagai daerah, tetapi di Sukadana, gerakan itu menemukan maknanya dalam wajah-wajah penuh semangat yang tak berhenti bekerja sejak matahari mulai meninggi.

Ketua DPC Partai Demokrat Lampung Timur, Muhammad Khadafi Azwar, tak memilih berdiri di tepi memberi instruksi. Ia berjalan dari sudut ke sudut kawasan Islamic Center, ikut memungut sampah bersama Ketua Fraksi Demokrat DPRD Lampung Timur Samsudin dan para legislator lainnya. Sesekali mereka berhenti menyapa warga, lalu kembali mengangkat karung sampah yang mulai penuh.

Tak ada protokoler yang membatasi langkah. Tak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat. Yang terlihat hanyalah gotong royong dalam bentuknya yang paling sederhana.

“Gerakan Langit Biru Indonesia Asri adalah bukti bahwa Partai Demokrat ingin terus hadir melalui aksi nyata. Di usia ke-25 ini, kami ingin memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus kita hidupkan,” kata Khadafi, Jumat (24/7).

Di tengah aktivitas itu, suasana terasa seperti kerja bakti kampung pada masa lalu. Orang-orang saling menyapa, saling membantu, bahkan saling menggantikan ketika ada yang kelelahan. Tidak ada yang menghitung siapa bekerja lebih banyak. Semua larut dalam semangat yang sama.

Bagi Khadafi, gotong royong bukan sekadar tradisi yang dipertahankan, tetapi fondasi yang membuat sebuah daerah tetap kokoh.

“Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai elemen merupakan modal penting dalam membangun daerah. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi masyarakat untuk terus peduli terhadap kebersihan lingkungan di mana pun berada,” ujar Anggota DPRD Provinsi Lampung itu.

Di antara kerumunan peserta, Sri Utami, warga Desa Muara Jaya, ikut memungut sampah di sekitar bangunan yang berdiri megah di desanya. Baginya, Islamic Center bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga rumah bersama yang harus dijaga.

“Kolaborasi antara Demokrat dan masyarakat menjadi aksi nyata di HUT ke-25 Partai Demokrat. Kami senang bisa ikut menjaga kebersihan Islamic Center karena ini kebanggaan masyarakat Lampung Timur,” tuturnya.

Menjelang siang, wajah Islamic Center berubah. Pelataran yang sebelumnya dipenuhi daun kering dan sampah kembali bersih. Rumput-rumput liar telah dirapikan. Sudut-sudut halaman kembali sedap dipandang. Sebelum meninggalkan lokasi, para peserta menanam sejumlah pohon sebagai penanda bahwa kepedulian tidak berhenti ketika kegiatan usai.

Ada pesan yang tertinggal dari gerakan itu. Bahwa ulang tahun sebuah partai tak selalu harus dirayakan dengan gegap gempita. Kadang, maknanya justru hadir dalam bunyi sapu yang menyapu halaman, tangan yang memungut sampah, dan orang-orang yang memilih bekerja bersama daripada sekadar berbicara.

Di usia seperempat abad, Partai Demokrat mencoba merayakan perjalanan politiknya dengan cara yang lebih membumi. Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah partai bukan hanya ditulis melalui kemenangan di ruang demokrasi, melainkan juga melalui jejak-jejak pengabdian yang benar-benar dirasakan masyarakat. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *