Bandarlampung (LW): Di usia ke-28 tahun, Partai Amanat Nasional (PAN) sedang menatap target besar. Tiga besar menjadi mimpi yang ingin dikejar. Namun, di tengah gegap gempita perjalanan politik itu, ada pekerjaan lain yang sedang dipersiapkan dari Lampung, yakni membangun kekuatan perempuan agar tidak sekadar menjadi angka dalam struktur partai.
Di tangan Imelda, S.H., PUAN Lampung ingin mengambil jalan itu.
Baru dipercaya memimpin Perempuan Amanat Nasional atau PUAN Lampung, Imelda sadar jabatan tersebut bukan sekadar posisi organisasi. Ada pekerjaan panjang yang menunggu. Ada struktur yang harus dibenahi, kader yang harus disiapkan, generasi muda yang harus dirangkul, hingga target keterwakilan perempuan yang selama ini kerap berhenti sebagai angka.
“30 persen itu harus benar-benar 30 persen. Jangan cuma sekadar kata-kata, himbauan, atau hanya ada dalam wacana,” ujar Imelda, di sela HUT ke 28 PAN, di Kantor DPW PAN Lampung, Minggu (23/8).
Kalimat itu menjadi garis besar langkah yang ingin ia bangun.
Bagi Imelda, momentum HUT ke-28 PAN bukan hanya perayaan bertambahnya usia sebuah partai. Di usia yang semakin matang, PAN harus terus memperkuat fondasinya. Dan perempuan, menurutnya, harus menjadi bagian nyata dari kekuatan tersebut.
Di tengah target PAN untuk menembus posisi tiga besar, Imelda memilih membawa optimisme yang sama.
“Kalau semua berjuang, semua bergerak, insya Allah tiga besar itu bukan hal yang tidak mungkin,” katanya.
Ia sadar jalan menuju target itu tidak selalu mudah. Semakin tinggi target yang ingin dicapai, semakin besar pula tantangan yang akan menghadang.
“Semakin tinggi pohon, semakin tinggi juga hal-hal yang nanti akan menghadang. Tapi dengan PAN yang semakin solid dan semakin terdepan, mudah-mudahan itu benar-benar bisa tercapai,” ujarnya.
Namun, bagi Imelda, membesarkan PAN tidak hanya soal mengejar angka elektoral. Ada fondasi organisasi yang harus diperkuat. Dan PUAN, menurutnya, harus hadir sebagai ruang perjuangan bagi perempuan untuk tumbuh, bergerak, dan mengambil peran.
Di situlah pekerjaan rumah besarnya dimulai.
Ia ingin mengubah cara pandang terhadap PUAN yang selama ini, menurutnya, lebih banyak diisi oleh kalangan perempuan dewasa. Ke depan, perempuan muda dan Gen Z harus mulai masuk dan diberi ruang.
Bukan hanya menjadi pelengkap struktur.
Bukan pula sekadar nama dalam daftar kepengurusan.
“Kita akan rombak struktur pengurus dan memasukkan juga Gen Z, termasuk yang muda-muda. Jangan sampai PUAN hanya dipandang sebagai wadah perempuan-perempuan yang sudah dewasa. Kita mulai membuka ruang bagi generasi muda,” tegasnya.
Langkah pertama dimulai dari rumah sendiri: membenahi struktur kepengurusan.
Dari tingkat provinsi, PUAN Lampung akan bergerak ke 15 kabupaten/kota. Struktur akan diperkuat, kepengurusan akan dibangun, dan organisasi diharapkan tidak lagi hanya hidup di atas kertas.
Bagi Imelda, gaung PUAN tidak cukup hanya terdengar dari Bandarlampung.
Ia harus sampai ke daerah.
Harus menemukan denyutnya di akar rumput.
Karena itu, ia menegaskan tidak ingin menjadi ketua yang hanya mengendalikan organisasi dari balik meja.
“Ketua harus turun ke lapangan. Kita punya 15 kabupaten/kota dan semuanya harus kita datangi. Kita tidak bisa hanya menggaungkan PUAN dari tingkat provinsi, sementara di bawah tidak bergerak,” katanya.
Di situlah makna amanah yang ia pahami.
Menjadi Ketua PUAN Lampung, menurut Imelda, bukan tentang menyandang jabatan. Bukan pula sekadar berdiri di panggung dan menerima ucapan selamat.
Di belakangnya ada pekerjaan panjang.
Ada struktur yang harus dihidupkan.
Ada perempuan muda yang harus dirangkul.
Ada kader yang harus dipersiapkan.
Dan ada target 30 persen yang ingin diwujudkan menjadi kekuatan nyata.
“Ini bukan sekadar amanah bahwa saya menjadi ketua. Ada PR besar di depan untuk beberapa tahun yang akan datang,” ujarnya.
Di usia ke-28 tahun PAN, perjalanan itu pun dimulai.
Sementara PAN membidik posisi tiga besar, PUAN Lampung sedang menyiapkan fondasi dari sisi lain, yakni memperkuat perempuan, membuka pintu bagi Gen Z, dan membawa organisasi lebih dekat kepada masyarakat.
Sebab bagi Imelda, 30 persen bukan sekadar angka.
Angka itu harus punya wajah.
Harus punya suara.
Harus bergerak.
Dan dari Lampung, PUAN ingin membuktikan bahwa perempuan bukan hanya bagian dari struktur politik, tetapi juga salah satu tenaga yang akan ikut menggerakkan masa depan PAN. (Rio)











