Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Merdeka di Bawah Atap yang Bocor

Pesisir Barat (LW): Merah putih berkibar di halaman SD Negeri 113 Krui, Bumi Rahayu, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Senin (17/8). Tawa anak-anak pecah. Semangat kemerdekaan terasa. Namun di balik keceriaan itu, ada pemandangan yang diam-diam menampar makna 81 tahun Indonesia merdeka.

Bangunan sekolah belum sepenuhnya pulih.

Sebagian sudah diperbaiki dan tampil lebih layak. Tetapi sebagian lainnya masih berdinding papan, dengan atap kelas yang bocor. Dua wajah sekolah berdiri berdampingan, satu sedang menatap masa depan, sementara yang lain masih menunggu untuk disentuh pembangunan.

Hebatnya, di tengah kondisi itu, semangat anak-anak justru tidak ikut bocor.

Mereka tetap datang. Tetap tertawa. Dan tetap menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mata yang penuh harapan.

Dari sekolah sederhana di pelosok Pesisir Barat itu, ada satu pesan yang terasa jauh lebih besar daripada kemeriahan perlombaan 17 Agustus, bahwa mimpi anak-anak tidak boleh kalah oleh kondisi bangunan sekolahnya.

Keluarga besar SD Negeri 113 Krui bersama kepala sekolah, para guru, tokoh masyarakat, pemangku, dan warga setempat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk menanamkan cinta tanah air, nasionalisme, kebersamaan, serta gotong royong.

Namun perayaan itu juga menyimpan harapan yang belum selesai.

Sekolah membutuhkan perhatian. Perbaikan bangunan perlu dituntaskan. Peralatan pendidikan juga harus dilengkapi. Sebab anak-anak di pelosok memiliki hak yang sama untuk belajar di ruang yang aman, nyaman, dan layak.

Bagi Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil IV yang meliputi Tanggamus, Pesisir Barat dan Lampung Barat, Imelda, S.H., kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti pada upacara dan pidato.

“Semangat kemerdekaan harus kita isi dengan kerja nyata. Anak-anak kita di pelosok juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan fasilitas yang memadai,” ujar Imelda.

Menurutnya, jarak dari pusat pemerintahan tidak boleh menentukan besar kecilnya perhatian yang diterima masyarakat.

“Jangan sampai anak-anak yang tinggal jauh dari pusat kota merasa bahwa mereka mendapatkan perhatian yang berbeda. Mereka adalah generasi penerus kita. Negara harus hadir dan memastikan mereka bisa belajar dengan baik,” tegasnya.

Imelda menilai semangat para guru dan siswa di SD Negeri 113 Krui justru menjadi kekuatan yang patut diapresiasi.

“Semangat guru dan anak-anak ini luar biasa. Keterbatasan bangunan tidak boleh membatasi mimpi mereka. Justru ini harus menjadi dorongan bagi pemerintah dan seluruh pihak untuk memberikan perhatian lebih,” katanya.

Bagi Imelda, pendidikan adalah salah satu wajah paling nyata dari kemerdekaan.

Sebab kemerdekaan akan terasa ketika seorang anak di pelosok dapat belajar tanpa rasa khawatir saat hujan turun. Ketika guru memiliki ruang dan fasilitas yang layak untuk mengajar. Ketika sekolah tidak lagi harus berdamai dengan atap bocor dan dinding papan. Dan ketika setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar cita-cita.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dari sekadar bangunan.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya dinding sekolah.

Yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan.

Di balik ruang kelas itu, ada anak yang mungkin kelak menjadi guru. Ada yang bermimpi menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang suatu hari mungkin kembali ke kampung halamannya sebagai pemimpin dan membangun daerahnya.

Mereka mungkin tumbuh jauh dari gemerlap kota.

Tetapi cita-cita mereka tidak pernah boleh dibuat kecil hanya karena sekolah mereka sederhana.

Justru karena itulah negara harus hadir.

Peringatan HUT ke-81 RI di SD Negeri 113 Krui akhirnya terasa seperti sebuah cermin. Cermin yang memperlihatkan dua kenyataan sekaligus, yakni semangat kemerdekaan yang begitu kuat dan pekerjaan pembangunan yang masih harus dituntaskan.

Merah putih sudah 81 tahun berkibar.

Tetapi bagi anak-anak Bumi Rahayu, kemerdekaan bukan sekadar bendera di halaman sekolah.

Kemerdekaan adalah atap yang tidak lagi bocor.

Kemerdekaan adalah ruang kelas yang layak.

Kemerdekaan adalah buku dan fasilitas belajar yang cukup.

Kemerdekaan adalah kesempatan untuk bermimpi tanpa merasa kalah hanya karena lahir dan tumbuh di pelosok.

Dari bangunan sekolah yang sebagian sudah diperbaiki dan sebagian masih berdinding papan itu, anak-anak Bumi Rahayu seolah sedang mengirimkan pesan kepada negeri ini.

Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya ingin belajar dengan layak.

Dan dari keinginan yang sederhana itu, tersimpan cita-cita yang luar biasa besar.

Karena bisa jadi, anak yang hari ini belajar di balik dinding papan dengan atap yang bocor adalah orang yang kelak berdiri di depan bangsa ini dan menentukan arah masa depan.

Maka jangan biarkan kondisi sekolah hari ini menjadi batas bagi mimpi mereka.

Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan ketika kita mampu menggelar perayaan paling meriah.

Kemerdekaan adalah ketika seorang anak di pelosok dapat menatap masa depan dan berkata tanpa ragu:

“Aku juga punya kesempatan yang sama.”

Dan di situlah merah putih menemukan maknanya yang paling dalam. (Rio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *