Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Imelda dan Merdeka yang Nyata

Bandarlampung (LW): Pagi 17 Agustus selalu punya cara sendiri membangkitkan rasa haru. Merah putih berkibar. Lagu Indonesia Raya mengalun. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh kegembiraan, sementara orang dewasa kembali mengingat satu kata yang diwariskan para pendiri bangsa, merdeka.

Tetapi di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jauh lebih sunyi dan barangkali lebih penting.

Sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa di kehidupan rakyat?

Pertanyaan itulah yang mengemuka dari Anggota DPRD Provinsi Lampung Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), sekaligus Ketua PUAN Lampung, Imelda, S.H., saat memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8).

Bagi Imelda, usia 81 tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah. Ia adalah cermin. Cermin untuk melihat sejauh mana cita-cita kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan air mata telah menjelma menjadi kesejahteraan bagi rakyat.

Sebab kemerdekaan, menurutnya, tidak boleh berhenti di halaman upacara. Tidak cukup hanya hadir dalam pidato. Apalagi sekadar menjadi perayaan yang datang setahun sekali.

Kemerdekaan harus turun ke jalan-jalan kehidupan.

Ia harus terasa ketika seorang ibu tidak lagi cemas memikirkan kebutuhan keluarganya. Ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika masyarakat memperoleh pelayanan publik tanpa kesulitan. Ketika kesempatan ekonomi terbuka dan setiap warga memiliki harapan yang sama untuk menatap masa depan.

“Harapan kami dengan adanya HUT RI ke-81 ini, kita ingin merdeka itu dalam arti yang sebenarnya. Sebagian rakyat kita menganggap merdeka itu hanya bahasa yang ada, dan menurut sebagian besar masyarakat, keinginan untuk benar-benar merdeka masih jauh,” ujar Imelda kepada media ini.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Imelda seperti mengajak seluruh elemen bangsa untuk berhenti sejenak dari gemuruh perayaan, lalu mendengarkan suara rakyat yang mungkin tidak terdengar dari panggung-panggung besar.

Sebab bagi sebagian masyarakat, perjuangan belum selesai.

Kemerdekaan mungkin telah diproklamasikan 81 tahun lalu. Tetapi perjuangan untuk keluar dari kesulitan ekonomi, memperoleh pendidikan yang lebih baik, mendapatkan pelayanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja, dan hidup dengan rasa aman masih menjadi pekerjaan bersama.

Karena itu, Imelda berharap HUT ke-81 RI tidak hanya menjadi momentum mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi energi untuk memperbaiki masa depan.

“Mudah-mudahan ke depannya, apa yang menjadi keinginan masyarakat itu segera terwujud,” katanya.

Dari sana, pembicaraan Imelda kemudian membawa satu isu yang menurutnya tidak kalah penting, yakni perempuan dan politik.

Bagi Imelda, perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perjalanan bangsa.

Perempuan harus berada di dalam arena. Hadir dalam proses. Duduk di meja pengambilan keputusan. Dan yang paling penting, membawa suara masyarakat menjadi kebijakan yang nyata.

Sebab ada begitu banyak persoalan rakyat yang bersentuhan langsung dengan kehidupan perempuan.

Dari dapur rumah tangga hingga ruang pendidikan. Dari persoalan kesehatan keluarga hingga perlindungan anak. Dari ekonomi hingga masa depan generasi berikutnya.

Karena itu, keterwakilan perempuan di politik, menurut Imelda, bukan sekadar memenuhi angka 30 persen.

Lebih dari itu, keterwakilan adalah tentang memastikan suara perempuan ikut menentukan arah kebijakan.

“Program PUAN adalah bagaimana peran perempuan dalam dunia politik bisa berdampak langsung kepada masyarakat dan porsi keterwakilannya maksimal,” tegasnya.

Di sinilah Imelda menempatkan PUAN Lampung bukan sekadar organisasi perempuan, melainkan ruang untuk mendorong perempuan agar berani masuk ke dunia politik, memahami persoalan masyarakat, kemudian mengubah kepedulian menjadi gerakan dan kerja nyata.

Sebab politik, bagi Imelda, seharusnya tidak membuat rakyat semakin jauh dari para pengambil keputusan.

Justru sebaliknya.

Politik harus menjadi jembatan.

Jembatan yang membawa keluhan rakyat menuju ruang kebijakan. Jembatan yang mengubah keresahan menjadi solusi. Dan jembatan yang memastikan bahwa suara masyarakat tidak berhenti sebagai percakapan di warung, rumah, atau ruang-ruang kecil kehidupan.

Di usia republik yang ke-81, pesan Imelda pun terasa seperti sebuah ajakan untuk menafsirkan kembali arti kemerdekaan.

Bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar tinggi.

Bukan hanya tentang upacara yang khidmat.

Bukan pula sekadar tentang meriahnya perlombaan tujuh belasan.

Kemerdekaan adalah ketika rakyat memiliki alasan untuk percaya bahwa hari esok akan lebih baik.

Kemerdekaan adalah ketika seorang anak berani bermimpi karena pendidikan terbuka di hadapannya.

Ketika seorang ibu mampu menatap keluarganya tanpa rasa takut menghadapi hari esok.

Ketika perempuan tidak lagi hanya diminta memilih, tetapi juga diberi ruang untuk menentukan.

Dan ketika politik benar-benar kembali kepada pemiliknya, yaitu rakyat.

Merah putih hari ini memang telah berkibar selama 81 tahun.

Tetapi perjuangan belum selesai.

Sebab tugas generasi hari ini bukan hanya menjaga kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu, melainkan mengisinya dengan keadilan, kesejahteraan, kesempatan, dan keberpihakan kepada mereka yang masih menunggu perubahan.

Imelda memilih mengingatkan hal itu tepat di hari ketika bangsa ini bersuka cita.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa memastikan rakyat benar-benar merasakannya,” pesannya.

Karena pada akhirnya, ukuran paling jujur dari sebuah kemerdekaan bukanlah seberapa megah ia dirayakan.

Melainkan seberapa nyata ia hidup dalam keseharian rakyat. (Rio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *