Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Ketika Atap Sekolah Rapuh, Mimpi Anak-anak Tak Boleh Runtuh

Way Kanan (LW): Ada ironi yang terasa begitu nyata di lorong-lorong sekolah itu.

Di sana, lantai masih bersih. Pintu-pintu kelas masih terbuka. Meja dan kursi masih tertata. Jendela-jendela masih menjadi jalan masuk cahaya pagi.

Tetapi ketika pandangan diarahkan ke atas, cerita berubah.

Atap yang semestinya menjadi pelindung justru memperlihatkan luka. Rangka kayu tampak tua dan terbuka. Sejumlah bagian plafon telah jebol. Lubang-lubang menganga memperlihatkan struktur atap di atasnya.

Di ruang kelas, kerusakan itu terasa lebih dekat.

Plafon yang mengelupas dan berlubang menjadi saksi bahwa bangunan sekolah telah lama membutuhkan perhatian. Di bawahnya, meja dan kursi tetap menunggu para siswa belajar, seolah pendidikan harus terus berjalan meski tempat mereka menuntut ilmu tak lagi sepenuhnya bersahabat.

Pemandangan itulah yang menjadi perhatian Anggota DPRD Provinsi Lampung daerah pemilihan Lampung Utara dan Way Kanan, Sahdana, saat menyoroti kondisi SMK Negeri 1 Way Bahuga dan SMK Negeri 1 Kecamatan Bumi Agung, Way Kanan.

Bagi Sahdana, persoalan tersebut bukan semata tentang genteng, plafon, kayu atau bangunan yang menua.

Ini tentang keselamatan.

Ini tentang kenyamanan.

Dan pada akhirnya, ini tentang bagaimana negara memperlakukan anak-anak yang sedang belajar menjemput masa depannya.

“Jangan sampai kita berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, tetapi kondisi ruang belajar masih seperti ini. Anak-anak kita berhak mendapatkan tempat belajar yang aman, nyaman dan layak,” tegas Sahdana, Selasa (18/8).

Kalimat itu sederhana. Namun jika melihat kondisi bangunan di lapangan, maknanya menjadi jauh lebih dalam.

Sebab setiap hari, di balik pintu-pintu kelas itu, ada siswa yang datang membawa buku, mimpi dan harapan. Mereka belajar bukan karena gedungnya megah. Mereka belajar karena percaya bahwa pendidikan bisa mengubah kehidupan.

Mereka adalah generasi yang kelak diharapkan menjadi tenaga terampil, pekerja profesional, pelaku usaha, bahkan pemimpin di daerahnya.

Namun mimpi sebesar itu seharusnya tidak dipertaruhkan di bawah plafon yang sewaktu-waktu dapat kembali runtuh.

Sahdana menilai pemerintah perlu melakukan pendataan dan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi sarana pendidikan, terutama sekolah yang tingkat kerusakannya sudah membutuhkan penanganan serius.

Menurutnya, pembangunan pendidikan tidak boleh hanya berbicara tentang kurikulum, prestasi siswa atau kualitas tenaga pendidik. Infrastruktur sekolah merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan.

Terlebih SMK memiliki misi menyiapkan generasi yang memiliki keterampilan dan kompetensi untuk menghadapi dunia kerja. Proses itu membutuhkan lingkungan belajar yang memadai.

“Ini harus menjadi perhatian bersama. Kita tidak ingin anak-anak Way Kanan belajar dalam kondisi yang membuat mereka merasa kurang diperhatikan,” ujar Sahdana.

Ia mendorong agar kerusakan sekolah tidak berhenti menjadi catatan dalam laporan atau sekadar dokumentasi. Harus ada langkah nyata, mulai dari pemeriksaan kondisi bangunan, penentuan skala prioritas hingga pengalokasian anggaran untuk rehabilitasi.

Sebab persoalan sekolah bukan hanya persoalan hari ini.

Jika dibiarkan, kerusakan akan semakin berat dan biaya penanganannya bisa semakin besar. Tetapi jika segera ditangani, pemerintah sesungguhnya sedang menyelamatkan lebih dari sekadar bangunan.

Pemerintah sedang menjaga ruang tumbuh sebuah generasi.

Di lorong sekolah yang panjang itu, cahaya matahari menembus dari sela-sela bangunan yang rusak. Bayangan rangka atap jatuh ke lantai, menciptakan pemandangan yang seolah sedang bercerita: bahwa sekolah itu masih berdiri, tetapi membutuhkan uluran perhatian.

SMK Negeri 1 Way Bahuga dan SMK Negeri 1 Kecamatan Bumi Agung bukan sekadar bangunan.

Di dalamnya ada guru yang mengajar dengan pengabdian. Ada siswa yang datang dengan cita-cita. Ada orang tua yang menitipkan harapan.

Karena itu, memperbaiki sekolah sejatinya bukan hanya memperbaiki atap yang bocor atau plafon yang berlubang.

Memperbaiki sekolah berarti memperbaiki tempat sebuah generasi menggantungkan masa depannya.

Dan masa depan anak-anak Way Kanan terlalu berharga untuk dibiarkan tumbuh di bawah atap yang rapuh. (Rio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *