Lampung Tengah (LW): Jalan rusak yang menghambat mobilitas, akses antarwilayah yang membutuhkan peningkatan, hingga kebutuhan air bersih menjadi suara yang mengalir dari masyarakat tiga kecamatan di Lampung Tengah. Semua keluhan itu bermuara di titik ke-10 masa reses Anggota DPRD Provinsi Lampung, Ni Ketut Dewi Nadi.
Di Kampung Bandar Sakti, Kecamatan Terusan Nunyai, Ni Ketut Dewi Nadi kembali membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi. Tak hanya warga Terusan Nunyai, reses tersebut juga dihadiri perwakilan masyarakat dari Kecamatan Way Pengubuan dan Terbanggi Besar, Kamis (20/8).
Pertemuan itu menjadi ruang penyerapan aspirasi sekaligus tempat masyarakat menitipkan harapan agar persoalan mendasar di wilayah mereka dapat masuk dalam agenda pembangunan.
Salah satu aspirasi datang dari masyarakat Kampung Lempuyang Bandar, Kecamatan Terbanggi Besar. Warga meminta perbaikan jalan kabupaten yang menghubungkan kampung mereka dengan wilayah sekitarnya.
Kondisi jalan yang mengalami kerusakan dinilai mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi warga. Karena itu, perbaikan infrastruktur tersebut menjadi salah satu kebutuhan yang diharapkan segera mendapat perhatian.
Selain itu, masyarakat juga mengusulkan peningkatan dan pengaspalan jalan lingkar di kawasan Kampung Poncowarno. Akses tersebut dinilai penting untuk memperlancar pergerakan warga dan memperkuat konektivitas antarwilayah.
Kebutuhan air bersih turut menjadi perhatian. Warga RT 12/RW 002 Kampung Lempuyang Bandar mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Dalam reses tersebut juga, sedikitnya ada enam aspirasi utama disampaikan masyarakat Way Pengubuan;
Pertama, warga Kampung Candi Rejo mengusulkan pembangunan kantor kampung permanen. Saat ini, kebutuhan akan gedung kantor dinilai penting untuk menunjang pelayanan pemerintahan dan masyarakat di tingkat kampung.
Kedua, warga meminta perbaikan dan pengaspalan jalan penghubung Kampung Candi Rejo–Bandar Kertahayu. Akses tersebut menjadi jalur penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi warga.
Ketiga, masyarakat mengusulkan pembangunan atau pembukaan akses jalan penghubung Banjar Ratu–Banjar Rejo. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas antarwilayah dan memudahkan aktivitas masyarakat.
Persoalan jembatan juga menjadi perhatian serius. Warga meminta perbaikan jembatan penghubung di wilayah Purnama Tunggal/Perwira yang dilaporkan mengalami kerusakan parah. Kondisi tiang penyangga yang putus dinilai membahayakan keselamatan warga yang melintas.
Kebutuhan air bersih turut menjadi aspirasi. Warga Dusun Karang Kledung, Kampung Banjar Ratu, mengusulkan pembangunan sumur bor untuk memastikan ketersediaan air bagi masyarakat.
Selain infrastruktur dan fasilitas dasar, warga juga menyampaikan aspirasi di sektor pemberdayaan ekonomi. Kelompok Wanita Tani (KWT) mengusulkan bantuan program peternakan bebek petelur yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Sejumlah kebutuhan mendasar juga mengemuka dari warga Kampung Bandar Sakti, warga Kecamatan Terusan Nunyai yang meminta pembangunan tiga unit sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Selain persoalan air, warga juga mengusulkan renovasi balai kampung agar dapat kembali berfungsi secara optimal sebagai pusat kegiatan dan pelayanan masyarakat.
Aspirasi lain yang turut disampaikan adalah bantuan bibit ternak berupa kambing dan bebek. Bantuan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
Di sektor infrastruktur, warga Kampung Bandar Sakti juga meminta bantuan pembangunan jalan lingkungan sepanjang sekitar satu kilometer. Jalan tersebut dinilai penting untuk menunjang mobilitas dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
Satu per satu aspirasi tersebut disampaikan dan dicatat untuk menjadi bahan perjuangan di tingkat provinsi maupun melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing.
Ni Ketut Dewi Nadi menegaskan, reses bukan sekadar agenda rutin anggota legislatif. Bagi dia, reses adalah kesempatan untuk mendengar langsung persoalan masyarakat dan memastikan suara warga tidak berhenti di tingkat kampung.
“Semua masukan dan usulan tertulis dari masyarakat dari tiga kecamatan ini akan kami himpun dan perjuangkan secara maksimal. Tugas kami di DPRD adalah memastikan suara dan kebutuhan riil warga sampai ke pemerintah daerah dan terealisasi demi kemajuan Lampung Tengah,” ujar Ni Ketut Dewi Nadi.
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, seluruh aspirasi yang masuk akan dihimpun sebagai bahan perjuangan dalam pembahasan program pembangunan dan penganggaran. Setiap usulan akan dikaji berdasarkan skala prioritas serta kewenangan pemerintah.
Menurut Ni Ketut Dewi Nadi, kebutuhan masyarakat harus menjadi salah satu pijakan utama dalam menentukan arah pembangunan. Sebab, pembangunan yang dirancang dari meja perencanaan harus tetap berpijak pada persoalan yang benar-benar dirasakan warga.
Dari titik ke-10 di Kampung Bandar Sakti, suara warga Terusan Nunyai, Way Pengubuan, dan Terbanggi Besar kini telah terkumpul. Jalan yang rusak, akses yang membutuhkan peningkatan, hingga kebutuhan air bersih menjadi catatan yang dibawa dari tengah masyarakat untuk diperjuangkan di ruang pengambilan kebijakan. (LW)











