Rezki dan Alarm Pancasila

Bandarlampung (LW): Pancasila dinilai tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus kembali hadir dalam keseharian generasi muda. Di tengah maraknya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba hingga tawuran, penguatan pendidikan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk membentuk karakter generasi bangsa.

Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kota Bandarlampung Daerah Pemilihan (Dapil) IV Wayhalim, Kedaton dan Labuhan Ratu, Rezki Wirmandi, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Minggu (27/9).

Rezki yang juga Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Bandarlampung mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dengan masyarakat, tetapi juga bagian dari tugas anggota legislatif untuk turun langsung ke tengah warga.

“Pancasila harus menjadi rambu-rambu dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga maupun di lingkungan masyarakat,” kata Rezki.

Menurutnya, penguatan nilai Pancasila memiliki relevansi dengan berbagai persoalan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia menyoroti fenomena tawuran, narkoba dan berbagai bentuk kenakalan remaja yang perlu mendapat perhatian bersama.

Dalam kegiatan yang dihadiri Anggota DPRD Lampung Budiman AS dan Akademisi Universitas Bandar Lampung (UBL) Anggalana sebagai narasumber, Rezki mendorong masyarakat bersama aparat penegak hukum memperkuat upaya pencegahan sekaligus pemberantasan berbagai perilaku negatif yang melibatkan remaja.

“Tujuan utamanya tentu bagaimana mengurangi angka kejahatan seperti narkoba dan tawuran. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi bagian dari upaya membentengi generasi muda dari lingkungan yang negatif,” ujarnya.

Namun, Rezki melihat tantangan penguatan ideologi Pancasila bukan hanya terletak pada perilaku remaja. Ia juga menyoroti semakin terbatasnya ruang pembelajaran Pancasila yang dirasakan di lingkungan pendidikan.

Ia mengaku banyak menerima perhatian masyarakat terkait pendidikan Pancasila dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah.

“Perlu ada pendalaman lagi mengenai pendidikan Pancasila, baik di tingkat SD, SMP maupun SMA. Kami mendorong agar pendidikan Pancasila kembali diperkuat,” tegasnya.

Bagi Rezki, pendidikan tidak semata-mata bertujuan mengejar kemampuan akademik. Pembentukan karakter, kepedulian sosial, penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan kemampuan hidup berdampingan juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Ia membandingkan pengalaman generasi sebelumnya yang mendapatkan pembelajaran Pancasila secara lebih intensif dengan kondisi generasi muda saat ini.

Menurutnya, penguatan kembali pendidikan Pancasila di sekolah dapat menjadi salah satu cara menjaga nilai kebersamaan dan kepedulian sosial agar tidak semakin tergerus perubahan zaman.

“Karena suka tidak suka, mau tidak mau, dampaknya langsung kepada kehidupan kita. Dulu ketika kita belajar Pancasila, bersosialisasi dan menghormati orang yang lebih tua terasa kuat. Sekarang kepedulian itu pada sebagian anak muda mulai berkurang,” ungkapnya.

Rezki menegaskan, pengamalan Pancasila tidak boleh berhenti di ruang kelas maupun forum sosialisasi. Nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat.

Sebab, di tengah derasnya perubahan zaman, Pancasila bukan hanya soal hafalan lima sila, tetapi tentang bagaimana generasi muda belajar menghormati, peduli, bergotong royong dan bertanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

“Pancasila harus menjadi rambu dalam kehidupan kita sehari-hari,” pungkas Rezki. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *