Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

“Kalau Sudah Mulus, Jangan Sein Kanan Belok Kiri”

Di atas jalan yang dulu lebih sering dihindari daripada dilalui, harapan akhirnya menemukan jalannya. Masyarakat Lampung Timur menyaksikan sendiri bagaimana penantian panjang itu mulai dijawab, ketika batu pertama diletakkan di ruas Jabung–Labuhan Maringgai (10/4), yang dibangun bukan dengan janji, tapi dengan pekerjaan nyata. Dan di momen itulah, Ketua DPRD Lampung sekaligus Sekretaris Partai Gerindra Lampung Ahmad Giri Akbar melempar satu kalimat sederhana yang mengendap makna. “Kalau sudah mulus, jangan sein kanan belok kiri ya ibu-ibu.”

Kalimat itu meluncur ringan, tapi maknanya berat. Sebab di negeri di mana jalan rusak bisa bertahun-tahun dibiarkan, tapi ingatan bisa berubah dalam hitungan hari, pesan itu terasa seperti pengingat, atau mungkin sindiran halus, atau bisa juga ditujukan langsung tanpa makna untuk ras terkuat di bumi saat berada di jalanan, yaitu Emak-emak.

Giri seperti sedang berbicara tentang lebih dari sekadar jalan. Tentang bagaimana perjuangan sering kali hanya diingat saat masih berlubang. Saat sudah mulus, arah bisa berubah, janji bisa dilupakan, dan yang dulu diperjuangkan bisa dianggap biasa saja.

“Jangan sampai waktu jalannya rusak, semua teriak. Tapi begitu sudah bagus, malah lupa siapa yang dorong ini semua,” kira-kira begitu makna yang ia titipkan, tanpa perlu berkata panjang.

Di sisi lain, warga Desa Maringgai punya cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar seremoni hari itu. Bagi mereka, jalan ini bukan proyek baru, ini luka lama.

Rosilia, warga setempat, mengingat betul bagaimana jalan itu sudah rusak sejak dirinya masih SMP. Lubang, batu, dan debu bukan gangguan, tapi rutinitas. Perbaikan pernah datang, tapi sekadar tambal sulam, hanya cukup untuk meredam keluhan, tapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan.

Waktu berjalan. Ia kini punya dua anak. Anak pertamanya bahkan sudah sampai di usia yang sama ketika ia dulu mulai mengeluhkan jalan itu. Dan ironisnya, jalan yang mereka lewati masih cerita yang sama, dan sampai akhirnya alat berat benar-benar datang.

“Dari saya sekolah SMP dulu, sampai saya punya anak yang sudah kelas 1 SMP, baru ini diperbaiki. Alhamdulillah, terimakasih Pak Gubernur, terimakasih Pak Giri,” ucap Rosilia.

Di titik ini, kalimat Giri terasa seperti punya dua arah, ke depan dan ke belakang. Ke depan, sebagai harapan agar pembangunan ini tidak sia-sia. Ke belakang, sebagai pengingat bahwa jalan sepanjang ini tidak dibangun dalam semalam.

“Kalau sudah enak dilewati, jangan pura-pura lupa. Karena yang susah itu waktu memperjuangkannya, bukan waktu menikmatinya,” kira-kira begitu nada yang ingin ia sampaikan, dengan cara yang lebih halus dari biasanya.

Selama ini, jalan rusak di Maringgai bukan cuma soal ketidaknyamanan. Ia merusak kendaraan, memperlambat ekonomi, bahkan mengancam keselamatan. Mobil besar kerap jadi korban, pengendara kecil harus ekstra waspada, dan waktu tempuh menjadi tak menentu.

Maka ketika perbaikan akhirnya dimulai, yang muncul bukan euforia berlebihan, melainkan harapan yang hati-hati. Warga tidak lagi sekadar ingin jalan diperbaiki, mereka ingin kali ini benar-benar selesai.

Dan di tengah itu semua, satu pesan menggantung di udara pagi Lampung Timur, jalan memang bisa diperbaiki, tapi ingatan itu pilihan.

Apakah nanti, saat aspal sudah mulus dan perjalanan terasa ringan, orang-orang masih ingat bagaimana semuanya dimulai? Atau justru, seperti yang sering terjadi, arah kembali berubah diam-diam? dari kanan, lalu belok ke kiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *