Bandarlampung (LW): Arus globalisasi dan derasnya perkembangan teknologi dinilai tidak boleh menggerus jati diri bangsa. Karena itu, Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil Bandarlampung, Budiman AS, terus menggelorakan semangat Pancasila hingga ke tingkat kelurahan melalui Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar di Kelurahan Tanjung Gading, Sabtu (13/6).
Dalam kegiatan tersebut, Budiman menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan di ruang kelas atau slogan seremonial semata. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya harus hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan untuk dihafal saja, tetapi harus dijalankan dan dirasakan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen, Budiman menargetkan sosialisasi ideologi Pancasila menjangkau seluruh 126 kelurahan di 20 kecamatan se-Kota Bandarlampung secara bertahap dan berkelanjutan.

Menurutnya, penguatan ideologi bangsa menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks. Terlebih, generasi muda saat ini menghadapi derasnya pengaruh budaya luar yang berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan.
Karena itu, Budiman mendorong agar pendidikan moral dan karakter berbasis Pancasila kembali diperkuat dalam sistem pendidikan nasional.
“Anak-anak kita harus dibekali nilai moral, etika, sopan santun, dan rasa cinta tanah air. Pancasila harus menjadi benteng karakter generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Anggota Komisi I DPRD Lampung itu juga menyatakan siap memperjuangkan aspirasi masyarakat yang muncul dalam forum tersebut. Salah satunya terkait persoalan pertanahan yang masih dihadapi sejumlah warga di kawasan pinggiran rel Kota Bandarlampung.
Budiman memastikan DPRD Lampung tidak akan menutup mata terhadap persoalan tersebut. Komisi I akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, instansi pertanahan, dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi yang memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.
“Aspirasi masyarakat akan kami kawal. Kami akan duduk bersama stakeholder terkait untuk membahas langkah terbaik sehingga warga mendapatkan kepastian dan keadilan,” katanya.
Ia menegaskan, kegiatan sosialisasi tidak hanya menjadi sarana memperkuat wawasan kebangsaan, tetapi juga wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara langsung kepada wakil rakyat.
Budiman berharap Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat sekaligus menjadi kompas moral dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Sementara itu, Akademisi Universitas Bandar Lampung (UBL) Anggalana menyoroti pentingnya membangun solidaritas dan kepedulian sosial sebagai fondasi menghadapi tantangan zaman.
“Persatuan tidak boleh hanya menjadi slogan. Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan sosial yang cepat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, era digital membawa peluang sekaligus ancaman, terutama dalam penyebaran informasi yang belum tentu benar. Karena itu, masyarakat perlu membangun literasi digital dan memperkuat nilai kebersamaan.
“Kita tidak boleh mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan atau informasi yang belum tentu benar. Persatuan adalah kekuatan terbesar bangsa ini,” tegas Anggalana. (LW)











