Pesisir Barat (LW): Di tengah hamparan kehidupan masyarakat Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, ada dua persoalan yang terdengar sederhana, tetapi begitu dekat dengan keseharian warga, jalan yang masih mengandalkan gotong royong dan air yang mulai sulit ketika musim kemarau.
Dua persoalan itu disampaikan langsung masyarakat kepada Anggota DPRD Provinsi Lampung Daerah Pemilihan (Dapil) IV yang meliputi Tanggamus, Pesisir Barat dan Lampung Barat, Imelda, S.H., saat melaksanakan reses untuk menyerap aspirasi masyarakat, Selasa (11/8).
Forum tersebut menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dan butuhkan. Tidak banyak yang diminta. Warga berharap akses jalan mendapat perhatian pemerintah dan kebutuhan air bersih dapat dipenuhi ketika musim kering tiba.
Persoalan jalan menjadi salah satu aspirasi yang paling mengemuka. Selama ini, masyarakat masih harus mengandalkan kekuatan gotong royong untuk menjaga dan memperbaiki akses yang mereka gunakan sehari-hari.
Semangat gotong royong memang menjadi bagian kuat dari kehidupan masyarakat. Namun, di balik semangat itu muncul sebuah pertanyaan yang sederhana sekaligus menggambarkan penantian panjang warga.
“Jalan ini selalu royongan, sampai kapan?”
Pertanyaan tersebut menjadi pesan agar pembangunan infrastruktur tidak selamanya dibebankan kepada masyarakat. Warga membutuhkan akses jalan yang lebih layak dan permanen sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan lebih mudah.
Bagi masyarakat di wilayah tersebut, jalan memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar jalur penghubung. Jalan menjadi akses menuju sekolah, tempat bekerja, pusat perdagangan, fasilitas kesehatan hingga berbagai kebutuhan sosial lainnya.
Ketika kondisi jalan belum memadai, berbagai aktivitas ikut terdampak. Karena itu, aspirasi mengenai jalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan akses yang lebih baik.
Di sisi lain, musim kemarau menghadirkan persoalan yang berbeda namun sama mendasarnya.
Ketika sumber air mulai mengering, kebutuhan air bersih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Dalam kondisi tersebut, warga berharap pemerintah memberikan solusi berupa pembangunan sumur bor.
“Musim kemarau, kering. Kami minta bantuan sumur bor,” pinta warga dalam forum reses tersebut.
Permintaan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat sesungguhnya sangat mendasar. Mereka membutuhkan sumber air yang dapat diandalkan ketika musim kemarau membuat ketersediaan air semakin terbatas.
Bagi warga, sumur bor bukan sekadar fasilitas tambahan. Kehadirannya diharapkan mampu menjadi solusi agar kebutuhan air tetap terpenuhi ketika musim kering berlangsung.
Imelda pun menyerap seluruh aspirasi tersebut sebagai bagian dari tugasnya sebagai wakil rakyat. Persoalan akses jalan dan ketersediaan air bersih menjadi catatan yang akan dibawa dalam perjuangan dan pembahasan sesuai kewenangan pemerintah.
Forum ini, bagi Ketua PUAN Lampung tersebut, bukan sekadar agenda bertemu masyarakat. Lebih dari itu, reses menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung persoalan yang dihadapi warga dan memastikan kebutuhan masyarakat di daerah pemilihan tidak berhenti sebagai cerita.
Sebab, ada perbedaan besar antara mengetahui persoalan dari laporan dan mendengarnya langsung dari masyarakat yang setiap hari mengalaminya.
Di Lemong, warga menunjukkan bahwa pembangunan masih menjadi kebutuhan yang sangat nyata. Jalan yang selama ini diperbaiki dengan royongan dan air yang mengering ketika kemarau menjadi dua pesan yang ingin mereka titipkan kepada wakil rakyat.
Gotong royong tetap hidup. Tetapi warga juga berharap pemerintah hadir.
Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang proyek besar dan angka dalam anggaran. Pembangunan juga tentang memastikan seorang warga dapat melintas di jalan yang layak dan mendapatkan air ketika musim kemarau datang.
Dari reses di Lemong, suara warga itu kini menjadi catatan penting bagi Imelda. Sebab, di balik jalan yang masih dibangun dengan gotong royong dan sumber air yang mengering saat kemarau, ada harapan sederhana yang ingin diwujudkan, yakni akses yang layak dan air yang tetap tersedia. Aspirasi itu pun tidak berhenti di forum ini, tetapi menjadi bagian dari perjuangan Imelda agar kebutuhan dasar masyarakat benar-benar mendapat tempat dalam kebijakan pembangunan. (LW)











