Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

“Godzilla El Nino” Ancam Lampung, DPRD Minta Petani Hemat Air & Ubah Strategi Tanam

Bandarlampung (LW): Ancaman fenomena cuaca ekstrem yang dijuluki “Godzilla El Nino” mulai disorot serius. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fauzi Heri, mengingatkan seluruh pihak, terutama petani untuk bersiap menghadapi potensi kekeringan panjang yang sudah diprediksi BMKG sebelumnya ini.

Menurutnya, Lampung sebagai daerah agraris masuk dalam wilayah rawan terdampak. Karena itu, langkah penghematan air dan pencarian sumber air alternatif harus segera dilakukan.

“Ini bukan isu biasa. Kekeringan ini panjang. Kalau daerah resapan kering, sumur bor bisa ikut mati, debit waduk juga turun,” tegasnya, Senin (13/4).

Ia menekankan, Dinas Pertanian harus bergerak cepat dengan menyiapkan program antisipasi yang konkret, termasuk pendekatan berbasis riset untuk menjaga produktivitas di tengah kondisi lahan kering.

Salah satu langkah strategis adalah menyiapkan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan. Fauzi mencontohkan komoditas seperti jagung dan padi yang perlu disesuaikan dengan kondisi minim air.

“Bibit harus disiapkan. Tidak bisa lagi pakai pola lama. Harus ada tanaman yang tetap bisa produksi walau air terbatas,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur pertanian, seperti optimalisasi sumur bor yang selama ini sudah banyak tersedia di wilayah pertanian. Namun, kendala utama masih pada keterbatasan listrik.

Untuk itu, kerja sama dengan PLN dinilai menjadi solusi penting agar penggunaan sumur bor lebih efisien dan tidak lagi bergantung pada genset berbiaya tinggi.

Tak hanya itu, Fauzi juga mendorong petani untuk mulai mempertimbangkan perubahan pola tanam, baik dengan menanam lebih awal maupun beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan.

“Semua opsi harus dibuka. Mau ubah pola tanam, ganti komoditas, atau pakai bibit tahan kering, itu wajib dipikirkan dari sekarang,” katanya.

Ia juga meminta Dinas Pertanian melakukan pemetaan wilayah secara detail, mulai dari struktur tanah hingga daerah yang berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan.

“Pendekatannya harus kewilayahan. Setiap daerah beda karakter tanahnya. Itu yang harus dipetakan supaya kebijakan tepat sasaran,” pungkasnya. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *