Bandarlampung (LW): Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dipastikan akan berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat. Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Amaluddin, menilai sektor industri, pelaku UMKM, hingga daya beli masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan efek dari kebijakan tersebut.
Menurut Amaluddin, kenaikan harga BBM selalu berimbas pada meningkatnya biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang dan jasa di tengah masyarakat.
“Pastilah punya dampak. Terutama terhadap sektor industri, UMKM, dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya (16/6).
Menurutnya, efisiensi penggunaan energi menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi beban pengeluaran.
Namun di sisi lain, Amaluddin menegaskan pemerintah tidak boleh hanya bergantung pada energi fosil. Ia mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan bahan bakar fosil. Pemerintah harus serius mendorong penggunaan energi alternatif dan energi terbarukan, seperti gas, bioetanol, dan sumber energi lainnya yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Politisi Demokrat tersebut juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap ketersediaan stok BBM nasional. Menurutnya, kondisi pasar energi global masih sangat memengaruhi pasokan dan harga BBM di dalam negeri sehingga perlu pemantauan yang ketat.
“Selama kita masih bergantung pada impor, persoalan pasokan dan harga akan terus rentan terhadap gejolak internasional. Karena itu, pemerintah harus memastikan ketersediaan stok sekaligus mempercepat transisi menuju energi terbarukan,” pungkasnya. (LW)











