Bandarlampung (LW): Elemen masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Masyarakat Lampung Penjaga Konstitusi mengecam keras pernyataan Saiful Mujani dan Islah Bahrawi yang dinilai tak sekadar kontroversial, tetapi berbahaya karena berpotensi mendorong skenario di luar jalur konstitusi untuk menjatuhkan Prabowo Subianto.
Koordinator gerakan, Novianti, S.H., menegaskan bahwa demokrasi bukan arena tekanan dan agitasi. “Kalau narasi digiring ke arah penggulingan kekuasaan di luar mekanisme resmi, itu bukan lagi kritik, tapi ancaman,” ujarnya, Rabu (15/4).
Menurutnya, sistem pergantian kepemimpinan di Indonesia sudah final, lewat pemilu, bukan lewat provokasi yang membakar opini publik. Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat bukan cek kosong untuk menggiring delegitimasi pemerintah yang sah.
Tak berhenti di kecaman, gerakan ini juga menyerukan kewaspadaan publik. Masyarakat diminta tidak terseret arus propaganda yang berpotensi memecah belah. “Stabilitas daerah jangan dikorbankan oleh narasi liar yang tak bertanggung jawab,” tegasnya.
Sinyal keras juga diarahkan ke aparat penegak hukum. Mereka didorong bertindak cepat dan tegas terhadap pihak-pihak yang diduga menyebarkan narasi provokatif yang bisa mengganggu ketertiban umum dan stabilitas nasional.
Sebelumnya, tekanan serupa muncul dari aksi Relawan Indonesia Bersatu (RIB) di Mabes Polri pada 13 April 2026 yang mendesak penindakan hukum terhadap penyebaran isu-isu yang dianggap merusak tatanan demokrasi.
“Demokrasi itu ada relnya. Begitu keluar jalur, yang terjadi bukan perubahan, tapi kekacauan,” tutup Novianti. (LW)











