Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Pesibar 13 Tahun: Antara Ombak Dunia dan Sunyi Kelas Pelosok

Bandarlampung (LW): Angin laut dari barat membawa cerita besar tentang Kabupaten Pesisir Barat. Tentang ombak yang dikenal peselancar dunia, tentang garis pantai yang nyaris sempurna, dan tentang menjadikan Pesibar panggung wisata internasional. Namun di saat yang sama, dari sudut-sudut sunyi pedalaman, masih terdengar cerita lain, ruang kelas sederhana, fasilitas terbatas, dan anak-anak yang belajar dalam keterbatasan.

Di momen ulang tahun ke-13 kabupaten itu, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Imelda, memilih tidak larut dalam euforia. Ia justru membuka dua sisi wajah Pesisir Barat yang berjalan beriringan, tapi belum seimbang.

Sebagai putri asli daerah itu, Imelda memahami betul denyut Pesibar. Ia tidak menampik kemajuan yang ada, namun juga tak menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih menumpuk.

“Banyak harapan ke depan, dari semua aspek. Tapi kembali lagi, pemimpin menentukan mana yang harus diprioritaskan,” ujarnya, Rabu (22/4).

Bagi Imelda, jawaban paling mendasar terletak pada pendidikan. Bukan sekadar angka partisipasi atau program formal, tetapi soal hal paling sederhana, kenyamanan belajar.

Di wilayah-wilayah seperti Way Haru dan pelosok lainnya, sekolah masih berdiri dalam kondisi yang jauh dari ideal. Di sanalah, menurutnya, masa depan daerah sedang dipertaruhkan secara diam-diam.

“Yang penting itu kenyamanan belajar dulu. Sekolah-sekolah di pelosok harus diperhatikan. Kalau nyaman, siswa pasti lebih semangat menimba ilmu,” katanya.

Di sisi lain, laut Pesibar terus bergemuruh membawa peluang. Event selancar internasional rutin digelar, menarik perhatian dunia, seolah memberi sinyal bahwa daerah ini sudah siap melompat lebih jauh.

Namun realitas belum sepenuhnya sejalan. Pariwisata, yang digadang-gadang sebagai mesin ekonomi, justru berjalan dengan rem yang belum dilepas sepenuhnya. Anggaran menjadi kendala utama, terlebih di tengah kebijakan efisiensi.

“Padahal kalau dimaksimalkan, PAD bisa naik signifikan. Tapi kendalanya memang di anggaran,” ujar Imelda.

Ia bahkan melontarkan pernyataan berani, lebih ke sebuah optimisme yang sekaligus tantangan.

“Pesibar itu bisa ngalahin Bali kalau benar-benar fokus dikelola,” tegasnya.

Namun mimpi besar itu, menurutnya, tidak cukup hanya dengan potensi alam. Ada hal lain yang tak kalah penting, yakni citra daerah. Informasi yang simpang siur dan klarifikasi yang lambat kerap membuat wajah Pesibar di luar terlihat berbeda dari kenyataan.

“Kadang ada informasi yang tidak tepat dan klarifikasinya terlambat, akhirnya opini luar jadi negatif,” katanya.

Di usia ke-13, Pesisir Barat seperti berdiri di garis tipis antara peluang dan tantangan. Ombaknya sudah mendunia, tetapi ruang-ruang kelas di pelosok masih menunggu perhatian yang sama besarnya.

Di sanalah, arah masa depan Pesibar akan ditentukan, apakah ia benar-benar melompat menjadi destinasi kelas dunia, atau tetap berjalan tertatih karena fondasi yang belum sepenuhnya kokoh? (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *