Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Tragedi Mesuji, GP Ansor Minta Hukum Bicara Bukan Amarah Massa

Bandarlampung (LW): Ketua GP Ansor Provinsi Lampung sekaligus Anggota DPRD Provinsi Lampung, Budi Hadi Yunanto, meminta semua pihak menyikapi tragedi pembakaran fasilitas Pondok Pesantren Nurul Jadid di Mesuji secara jernih dan bermartabat.

Menurut Budi, apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum, termasuk isu pelecehan seksual yang berkembang di tengah masyarakat, maka proses penegakan hukum wajib dilakukan secara tegas dan transparan. Namun ia menilai, tindakan anarkis hingga membakar fasilitas pesantren bukanlah jalan penyelesaian.

“Hukum harus ditegakkan, tetapi pesantren jangan sampai menjadi korban amarah massa,” tegasnya, Selasa (12/5).

Ia menekankan, pesantren merupakan majelis ilmu dan simbol pendidikan moral yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, persoalan yang melibatkan oknum tidak seharusnya menyeret lembaga pendidikan secara keseluruhan.

“Pesantren itu lembaga pendidikan tua di Indonesia, tempat lahirnya ilmu dan pembinaan akhlak. Kehormatannya harus tetap dijaga,” ujarnya.

Budi juga mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum untuk bersama-sama meredam situasi agar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Di sisi lain, GP Ansor Lampung disebut telah bergerak melakukan pendampingan dan pengumpulan informasi di lapangan melalui tim LBH GP Ansor guna memastikan persoalan ditangani secara objektif dan tidak dipenuhi spekulasi.

“Teman-teman GP Ansor di Mesuji terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar situasi tetap kondusif dan penyelesaian berjalan baik,” katanya.

Ia berharap tragedi di Mesuji menjadi pelajaran penting agar setiap persoalan sosial diselesaikan melalui jalur hukum dan musyawarah, bukan dengan tindakan destruktif yang justru memperkeruh keadaan.

Diketahui, aksi perusakan dan pembakaran fasilitas Pondok Pesantren Nurul Jadid terjadi pada Jumat malam setelah massa yang semula berkumpul membahas pengembangan masjid desa menyampaikan aspirasi terkait keberadaan salah satu pengasuh pondok. Situasi kemudian memanas hingga berujung aksi demonstrasi anarkis.

Saat ini aparat kepolisian bersama pemerintah setempat masih melakukan pendalaman terkait insiden tersebut serta menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. (LW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *