Bandarlampung (LW): Indonesia tidak sedang kekurangan anak muda pintar, tapi kekurangan yang berkarakter. Itulah sinyal bahaya yang ditegaskan Anggota DPRD Kota Bandarlampung, Rezki Wirmandi, dalam sosialisasi pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan di Perumnas Wayhalim, Kecamatan Wayhalim, Senin (26/5).
Menurut Rezki, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi atau politik, melainkan krisis nilai—di mana generasi muda terancam kehilangan jati diri karena derasnya arus globalisasi dan penggunaan teknologi tanpa filter kebangsaan.
“Ini bukan hanya soal sosialisasi formal, tapi soal perjuangan menjaga jati diri bangsa agar tidak larut dalam gelombang zaman,” ucap Ketua Fraksi Demokrat Bandarlampung ini.

Ia juga menyoroti peran sentral keluarga, pendidikan, dan tokoh masyarakat dalam membentengi anak-anak dari ancaman degradasi moral yang disebabkan oleh penyalahgunaan teknologi dan lunturnya semangat gotong royong.
“Ini menjadi pengingat keras bahwa di balik kemajuan zaman, bangsa ini tidak boleh kehilangan arah. Jati diri, nilai luhur, dan semangat kebangsaan harus tetap menjadi pondasi dalam membentuk masa depan Indonesia,” tegas Eky, sapaan karibnya.
Diketahui, sosialisasi ini menghadirkan dua pembicara utama yang menyoroti bahaya nyata yang tengah dihadapi bangsa.
Anggalana, akademisi dari Universitas Bandar Lampung (UBL), mengungkap bahwa generasi muda saat ini kian individualis dan konsumtif akibat pengaruh gadget dan media sosial.
“Kita menghadapi gelombang besar berupa degradasi moral dan spiritual. Generasi pintar teknologi, tapi rapuh dalam karakter,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya penguatan spiritualitas dan nilai kemanusiaan untuk menyeimbangkan perkembangan teknologi.
Sementara itu, Budiman AS, Anggota DPRD Provinsi Lampung sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Bandarlampung, secara gamblang memperingatkan dampak negatif konten digital terhadap mentalitas anak muda.
“Anak-anak kita bisa mengakses dunia hanya dengan satu klik. Tapi tanpa literasi digital dan pendidikan karakter, mereka justru bisa terseret arus konten beracun yang menumpulkan nurani dan semangat kebangsaan,” tegasnya.
Budiman mendorong agar pendidikan karakter menjadi prioritas dalam sistem pendidikan nasional dan kegiatan sosial masyarakat. Menurutnya, keluarga adalah benteng pertama yang harus diperkuat untuk melindungi generasi penerus dari kehancuran nilai. (LW)











