Portal Berita Daerah Lampung Terpercaya dan Terupdate

Wajib Senyum, Wajib Pancasila: Seruan Budiman AS di Sudut Kota Bandarlampung

Bandarlampung (LW): Dalam suasana akrab namun penuh keprihatinan di Gang Wajib Senyum, Way Kandis, Tanjung Senang, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS, mengingatkan masyarakat akan ancaman besar yang kini datang bukan dari luar negeri, melainkan dari dalam genggaman: gadget.

Melalui kegiatan sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Senin (26/5), Budiman menyuarakan kegelisahan mendalam terhadap dominasi dunia digital dalam kehidupan anak-anak. Baginya, gadget bukan sekadar alat komunikasi, tapi bisa menjadi senjata diam yang perlahan menggerogoti karakter bangsa.

“Tanpa kita sadari, banyak orang tua telah menyerahkan peran mendidik anak kepada layar gadget. Mereka membiarkan anak larut dalam dunia digital tanpa pendampingan. Ini bukan sekadar soal kecanduan game, ini tentang lunturnya nilai sosial dan kaburnya jati diri kebangsaan,” tegas Budiman dalam sambutannya.

Ketua Partai Demokrat Bandarlampung ini menggambarkan ironi generasi muda saat ini yang lebih paham algoritma TikTok ketimbang nilai-nilai Pancasila. Ia menyayangkan lemahnya pengawasan dari orang tua, yang justru menjadi celah masuk bagi degradasi moral dan minimnya rasa cinta tanah air.

“Anak-anak kita lebih mengenal karakter game daripada pahlawan bangsa. Lebih fasih mengikuti challenge viral ketimbang memahami arti gotong royong. Ini bukan cuma masalah teknologi, ini soal arah bangsa ke depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Budiman menyebut dampak lanjutan dari ketergantungan gadget adalah penurunan prestasi akademik, krisis identitas, bahkan terjadinya kekosongan ideologis di kalangan generasi muda. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai tameng di era digital.

“Jika nilai-nilai kebangsaan tak kita tanamkan sejak dini, kita sedang membiarkan generasi kita tumbuh tanpa akar, tanpa arah, tanpa karakter. Cerdas digital tak cukup. Harus ada karakter yang kuat sebagai fondasi,” ujarnya.

Turut hadir sebagai narasumber, akademisi Universitas Bandar Lampung, Anggalana, yang menegaskan bahwa ideologi Pancasila harus tetap menjadi pemandu utama dalam menghadapi derasnya arus globalisasi.

“Ideologi negara tidak boleh dikalahkan oleh ideologi pasar atau teknologi. Anak muda butuh pegangan yang kuat agar tidak hanyut dalam dunia maya yang tak berbatas,” ujar Anggalana.

Acara ini menjadi oase ideologis di tengah gempuran budaya digital. Di gang kecil bernama “Wajib Senyum”, suara kebangsaan menggema sebagai pengingat bahwa kemajuan tanpa karakter adalah ilusi. Tanpa pijakan pada Pancasila, generasi mendatang bisa terombang-ambing oleh “ideologi android” yang tak mengenal batas, budaya, atau bangsa. (LW)