Bandarlampung (LW): Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan di bangku sekolah, melainkan fondasi yang menjaga Indonesia tetap berdiri di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Karena itu, penguatan ideologi Pancasila menjadi pekerjaan bersama, terutama dalam membentengi generasi muda dari lunturnya nilai-nilai kebangsaan.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar Anggota DPRD Kota Bandarlampung Dapil IV (Kedaton, Wayhalim, dan Labuhan Ratu) Rezki Wirmandi, di Gunung Sulah, Kecamatan Wayhalim, Sabtu (10/10).
Dalam kegiatan tersebut, Rezki menghadirkan Levi Tuzaidi, S.Sos., dan Anggota DPRD Provinsi Lampung Budiman AS sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Levi mengajak masyarakat memahami kembali makna peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal dengan G30S PKI yang menjadi bagian penting dari sejarah bangsa, ketika terjadi upaya yang dikaitkan dengan gerakan PKI untuk mengganti ideologi negara yakni Pancasila dengan Ideologi komunis.
Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa Pancasila harus terus dijaga dan dipahami sebagai dasar negara.
“Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Kita bernaung di bawah bendera yang sama, meskipun berasal dari suku, ras, agama, dan budaya yang berbeda. Pancasila menjadi dasar yang mempersatukan seluruh perbedaan itu,” ujar Levi.

Ia menilai, penguatan pendidikan Pancasila perlu mendapat perhatian serius, terutama di tengah perkembangan generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan digital dengan arus informasi yang begitu cepat.
Pendidikan Pancasila, menurut Levi, tidak cukup hanya disampaikan sebagai materi pembelajaran formal. Nilai-nilainya harus ditanamkan melalui pemahaman, keteladanan, serta praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Senada, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bandarlampung yang juga anggota DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS, menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau sekadar simbol dalam kegiatan seremonial.
“Pancasila jangan hanya dihafal, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Budiman.
Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam sikap saling menghormati, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, serta memperlakukan setiap warga negara secara adil tanpa membedakan latar belakang.
Sementara, Rezki Wirmandi menegaskan bahwa sosialisasi pembinaan ideologi dan wawasan kebangsaan pada hari ini menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih harmonis.
Di tengah tantangan zaman dan perubahan pola pikir generasi muda, menjaga Pancasila berarti memastikan nilai-nilainya tetap relevan, dipahami, dan dijalankan dalam kehidupan nyata.
“Sebab, kekuatan Pancasila bukan semata terletak pada kemampuannya diucapkan, melainkan pada kesanggupan setiap warga negara untuk menghidupkannya melalui tindakan,” pungkas Ketua Fraksi Demokrat Kota Bandarlampung ini. (LW)












