by

Cara Mudah Pahami Denyut Jantung Bayi Baru Lahir, Mana yang Normal dan Tidak

Lampungway.com. Cara Mudah Pahami Denyut Jantung Bayi Baru Lahir, Mana yang Normal dan Tidak. Setiap orangtua, termasuk ibu yang sedang hamil, sangat menginginkan bayi yang dilahirkannya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan.

Sayangnya, bayi yang baru lahir tidak luput dari risiko serangan penyakit. Aritmia, misalnya, yang merupakan kelainan pada denyut jantung pada bayi baru lahir.

Seperti apa aritmia jantung yang bisa dialami oleh bayi baru lahir ini? Mari simak informasinya berikut ini.

Apa itu aritmia pada bayi baru lahir?

Aritmia adalah kondisi yang terjadi ketika ada kelainan pada detak jantung bayi. Kelainan ini bisa meliputi peningkatan denyut jantung (takikardia), maupun penurunan denyut jantung (bradikardia).

Aritmia pada bayi baru lahir biasanya sudah mulai berkembang sejak bayi masih berada di dalam kandungan ibu. Setelah lahir, kondisi ini dapat mengakibatkan denyut jantung bayi baru lahir menjadi tidak teratur.

Menurut US Cardiology Review Journal, ketidaknormalan denyut jantung bayi baru lahir (aritmia) bisa dialami oleh sekitar 1-2 persen bayi.

Berapa denyut jantung normal pada bayi baru lahir?

Denyut jantung normal untuk bayi yang baru lahir berkisar antara 120-160 denyut per menit (BPM). Angka ini disertai dengan laju pernapasan di kisaran 40-60 napas per menit saat bayi baru lahir.

Bahkan di usia kehamilan menginjak 30 minggu, detak jantung normal bayi di dalam kandungan seharusnya sudah berada di angka 120-160 BPM. Sedangkan untuk denyut jantung bayi baru lahir yang tidak normal yakni kurang dari 100 BPM, dan lebih dari 180 BPM.

Aritmia atau denyut jantung tidak normal sebenarnya jarang terjadi pada bayi di dalam kandungan maupun yang baru lahir. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, persentase angka aritmia hanya terjadi pada sekitar 1-2 persen kehamilan.

Denyut jantung tidak normal pada bayi baru lahir juga biasanya bersifat sementara dan tidak berbahaya. Meski begitu, dalam beberapa kasus tertentu, denyut jantung yang tidak normal ini dapat berakibat fatal alias berujung pada kematian bayi.

Baca Juga :   Pemerintah Kaji Ulang Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Apa saja masalah pada denyut jantung bayi baru lahir?

Denyut jantung tidak teratur (aritmia) pada bayi baru lahir tidak terbagi menjadi dua jenis. Keduanya dibedakan berdasarkan tingkatan denyut jantung yang dialami bayi.

Berikut jenis aritmia pada bayi baru lahir:

1. Bradikardia

Bradikardi atau bradikardia adalah kondisi ketika jantung bayi berdetak sangat lemah, bahkan di bawah detak jantung normalnya. Jika denyut jantung bayi baru lahir seharusnya berada di rentang 120-160 BPM, bradikardia justru sangat berada di bawah angka tersebut.

Detak jantung bayi yang mengalami bradikardia dapat kurang dari 100 BPM, atau bisa di bawah 80 BPM. Sekitar 50 persen bayi yang mengalami bradikardia dapat dipicu oleh ibu yang memiliki gangguan pada jaringan ikat tubuh, seperti lupus dan lain sebagainya.

Bayi dengan blok jantung komplit juga bisa mengalami kelainan jantung bawaan, meliputi gangguan pada bagian atrium dan ventrikel jantung. Kondisi ini yang kemudian memengaruhi detak jantung bayi baru lahir.

Blok jantung komplit terjadi ketika ada gangguan pada hantaran sinyal listrik jantung. Akibatnya, impuls listrik ini tidak dapat dialirkan secara normal pada setiap bagian organ jantung.

Blok jantung komplit dapat mengakibatkan denyut jantung melemah dan melambat ketimbang biasanya. Adanya penyumbatan pada jantung bayi selama di dalam kandungan bisa mengakibatkan blok jantung komplit.

2. Takikardia

Takikardi atau takikardia adalah kondisi ketika detak jantung bayi baru lahir terlalu cepat. Kebalikan dari bradikardia, denyut jantung bayi yang mengalami takikardia berada di atas 160 maupun 180 BPM.

Ada 3 jenis takikardia pada bayi baru lahir yang paling umum. Mulai dari takikardia supraventrikular (SVT), atrial flutter (AF), dan takikardia ventrikel (VT).

Takikardia supraventrikal (SVT) pada bayi baru lahir biasanya ditandai dengan denyut jantung lebih dari 220 BPM. Napas bayi yang mengalami takikardia jenis ini juga lebih cepat ketimbang biasanya.

Namun, tak perlu khawatir. Pemberian diagnosis dan perawatan yang tepat dapat membuat gejala SVT berangsur-angsur hilang dalam beberapa bulan. SVT juga bisa mulai dideteksi sejak bayi masih berada di dalam kandungan.

Baca Juga :   Tips Memulihkan Tangan Bengkak Setelah Diinfus

Bagaimana cara mendiagnosis aritmia pada bayi baru lahir?

Sebelum lahir, aritmia sudah bisa mulai didiagnosis saat usia kehamilan 10-12 minggu, tepatnya selama melakukan pemeriksaan prenatal. Namun secara keseluruhan, biasanya ibu tidak menunjukkan gejala apa pun terkait dengan kondisi bayi di dalam kandungan.

Baru setelah dilahirkan, denyut jantung bayi baru lahir yang tidak teratur bisa diperiksa dengan menggunakan skor Apgar. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan beberapa menit pertama setelah bayi lahir guna membantu mengidentifikasi adanya gangguan pada bayi.

Entah itu mengalami kesulitan bernapas atau memiliki masalah kesehatan yang membutuhkan perawatan lebih lanjut. Sekitar 1-5 menit setelah lahir, pola pernapasan dan denyut jantung bayi akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter dan tim medis.

Skor Apgar bisa berkisar dari 0-10. Jika total skor 10, artinya bayi dalam kondisi sangat baik. Sebaliknya, skor Apgar yang berada di angka 3 menandakan butuh perawatan segera untuk memperbaiki detak jantung bayi baru lahir.

Proses yang sulit dan waktu yang lama saat bayi dilahirkan, dapat menurunkan persediaan oksigen untuk bayi. Hal ini yang kemudian dapat memengaruhi total nilai pada skor Apgar, sehingga menyebabkan denyut jantung bayi tidak teratur (aritmia).

Bagaimana penanganan detak jantung tidak teratur pada bayi?

Ketika denyut jantung tidak teratur sudah terdeteksi sejak di dalam kandungan, dokter mungkin dapat meresepkan obat. Pemberian obat pada ibu hamil dipastikan aman, sekaligus dapat membantu memperlambat bila detak jantung bayi yang terlalu cepat.

Sedangkan denyut jantung yang tidak teratur pada bayi baru lahir jarang sekali terjadi. Kalau pun terjadi, dalam banyak kasus biasanya dapat sembuh dengan sendirinya.

Bila kasus aritmia pada bayi ini berkembang cukup parah, Anda mungkin diminta untuk berobat langsung ke spesialis jantung. Dokter spesialis jantung yang nantinya akan memberikan perawatan pada bayi sesuai dengan penyebab dan tingkat keparahan penyakitnya.

Sumber : Hallosehat.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *