Berita  

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 360

Lampungway.com – Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 360. Pada Kisah Jodha Akbar Episode 359 sebelumnya, Debroo menuliskan tentang bagaimana Ratu Ruqayah telah meminta maaf pada Ratu Jodha tentang nasib anak-anaknya dulu hassan dan hussein adalah kesalahannya namun tetap saja ratu ruqayah memiliki pikiran-pikiran buruk terhadap Jodha, karena bagaimanapun Ratu Jodha telah menjadi Mariam Uz Zamani yang sangat Ruqaiya impikan selama ini. Apa saja yang akan ia perbuat? mari simak ceritanya kali ini

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 360

Malam itu disebuah rumah, tampak sepasang suami istri Rashid dan Zil Bahar yang sedang hamil besar. Saat itu sang istri yang sedang santai beristirahat tiba-tiba mengerang kesakitan diperutnya, Rashid suaminya langsung berlari mendekat, “tidak apa-apa, Aku tidak apa-apa, hanya ini anak kita sedang menendang nendang didlam perut, sini, coba rasakan” ujar Zil Bahar sambil meraih tangan suaminya untuk ikut merasakan tendangan anaknya didlam perut. Rashid kelihatan terkejut dan bahagia setelah meraba perut istrinya. “Entah kenapa, aku merasa anak kita nantinya akan menjadi orang besar, dia akan merubah nasib kita” ujar Zil Bahar, “Siapapun dia nantinya, mau laki-laki ataupun perempuan, dia akan menjadi seorang penari dan penyanyi berbakat” kata Rashid, “Ohh tidak, anakku pasti akan membuat sejarah, aku mempunyai firasat seperti itu” ujar Zil Bahar lagi, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, “ Aku akan mencari makan dulu” ujar Rashid sambil berlalu dari sana.
Di Istana Agra, dikamar Ratu Jodha, tiba-tiba saja Salim menangis dan membangunkan Ratu Jodha yang sedang tidur lelap “Heiii, ada apa sayang? ada apa nak? kau ingin keluar yaa?? Baiklah, ayo kita keluar” ujar Ratu Jodha sambil menenangkan anaknya. Malam itu hujan mulai turun, Ratu Jodha menuju kearah balkon istana “Heiii, jangan menangis, ini cuma hujan angin sayang, ini biasa terjadi, kau baru tahu ya?” kata Ratu Jodha sambil terus menenangkan Salim. Sementara itu diluar istana, tampak Zil Bahar keluar dari gubuknya yang tepat berada didepan istana, dari kejauhan Ratu Jodha melihat Zil Bahar yang sedang berdiri diluar gubuknya yang hanya terbuat dari jerami kemudian Zakira dan Shamshad datang menemani Ratu Jodha dibalkon “Apa yang sedang kau pikirkan Ratu Jodha?” tanya Zakira, “Aku sedang berfikir hari ini hujan turun dgn derasnya dan kita aman berada didlam istana, tapi lihat perempuan itu yang ada didepan gubuk, bagaimana dia bisa tinggal digubuk itu? apalagi dgn cuaca yang buruk seperti ini?” kata Ratu Jodha sambil terus penasaran melihat kegubuk Zil Bahar. “Mereka itu yang kemarin datang, Ratu Jodha” ujar Zakira.
Tanpa terasa ternyata Salimpun berhenti menangis, menyadari anaknya sudah tidak menangis lagi lalu Ratu Jodha berkata: “Heiii, kau sekarang sudah bisa menikmati hujan yaa? kau ingat waktu hujan terakhir waktu kau masih didlam perut ibu yaa, kau sudah bisa merasakannya”.Sementara diluar istana diluar gubuk, Zil Bahar sedang ngobrol dgn anaknya yang dikandungnya “Kau tahu, nak, suatu saat pada hujan berikutnya, aku akan bermain-main hujan bersama kau, aku akan membasahi jari-jarimu yang kecil dgn air hujan” ujarnya sambil mengambil sedikit air hujan dan ditaruhnya diatas perutnya “Naah rasakan air hujan ini” katanya sambil mengusap usap perutnya yang membuncit.
Sedangkan Ratu Jodha saat itu juga sedang membasahi tangan Salim dgn air hujan, “Kau tahu, nak, kata Syeh Salim kelak nantinya dlam kehidupanmu kau akan berfikir menggunakan hatimu, ibu ingin kau seperti itu karena seseorang yang berfikir menggunakan hatinya selalu akan menjadi orang besar” ujar Ratu Jodha
Sementara itu digubuk Zil Bahar “Kau tahu, nak, Raja Jalal adalah seorang Raja yang agung dan dia memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Salim, kau akan sangat beruntung kalau kau bisa bertemu dgn Pangeran Salim karena kau akan dilahirkan diKesultanan Mughal” kata Zil Bahar.
Diatas balkon, Ratu Jodha masih terus mengajak Salim ngobrol “Kau adalah seorang pangeran, kau harus berjalan pada jalur ayahmu, kau tahu, seseorang telah mengirimkan kau benang suci” ujar Ratu Jodha
Digubuk Zil Bahar “Benang suci yang aku kirimkan untuk Pangeran Salim itu adalah pemberian dari seorang ulama yang dititipkan padaku” ujar Zil Bahar, kemudian dia melihat ada beberapa orang yang melewati gubuknya sambil berkata “Besok pangeran Salim akan mati dan masalah kita akan terselesaikan” kata mereka.
Zil Bahar langsung bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka, kemudian orang-orang pergi dari sana, karena penasaran Zil Bahar mencoba untuk mengikutinya dan dilihatnya orang-orang masuk kesebuah tempat rahasia, mereka masih saling ngobrol dan merencanakan bagaimana caranya membunuh Salim. Salah satu dari mereka berkata: “Besok Raja Jalal dan Ratu Jodha akan pergi keMandir bersama Pangeran Salim, disana pasti penjagaan akan dikurangi, kita akan menyerang Pangeran Salim disana dan kita akan bunuh dia diMandir!” ujar orang itu, Zil Bahar yang sedari tadi menguping nampak terkejut dan dia langsung berfikir “Aku harus memberitahu Raja Jalal tentang hal ini” ujarnya
Malam itu, Zil Bahar langsung menuju keIstana Agra dan meminta izin pada para prajurit yang sedang berjaga agar dia diperbolehkan masuk untuk bertemu dgn Raja Jalal, “Saya ingin bertemu dgn Raja Jalal! segera! ini menyangkut kehidupan dan kematian! Tolooong, ijinkan saya bertemu dgn beliau” ujar Zil Bahar memohon dgn amat sangat tapi para prajurit itu tidak mengijinkannya bertemu dgn Raja Jalal. “Tolonglah, ijinkan saya bertemu dgn Raja Jalal! ini tentang nyawa Pangeran Salim!” ujar Zil Bahar lagi. Sementara itu diistana balkon, Ratu Jodha sedang santai dibalkon istana bersama Jalal dan Salim “Seharian ini Salim kelihatan tegang sekali, dia tidak Ttidur seharian, Yang Mulia” kata Ratu Jodha,
”Tentu saja, Ratu Jodha, dia itu pangeran jadi dia memang harus memiliki beberapa sikap” ujar Jalal, sesaat kemudian Ratu Jodha melihat Zil Bahar sedang berdiri digerbang istana, “Sepertinya ada keributan diluar istana, Yang Mulia” kata Ratu Jodha, lalu Raja Jalalpun ikut melihat kebawah melihat apa yang terjadi, disana sudah ada Maan Sigh dan perempuan tersebut, tak berapa lama kemudian Maan Sigh membawa Zil Bahar menghadap ke Raja Jalal
Ketika Zil Bahar bertemu dgn Raja Jalal , Raja Jalal langsung bertanya: “Ada masalah apa? kenapa kau ingin bertemu dengan ku?” tanya Raja Jalal, “Maafkan, hamba Yang Mulia, hamba cuma ingin memberitahu bahwa Pangeran Salim saat ini dlam bahaya, saya tanpa sengaja tadi mendengarkan pembicaraan beberapa orang yang membuat rencana untuk membunuh pangeran Salim diMandir” kata Zil Bahar,
Raja Jalal dan Ratu Jodha sangat terkejut mendengarnya, “Kalau sampai informasi yang kau berikan ini salah, kau tahu konsekuensinya khan? kau akan saya bunuh!” ujar Raja Jalal lagi, “Seorang perempuan yang akan menjadi ibu, bagaimana mungkin akan memberitakan kabar bohong, Yang Mulia” ujar Zil Bahar lagi, lalu Raja Jalal berkata pada para pengawalnya “Kalau perempuan ini berkata benar, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi” kemudian Jalal menyuruh Maan Sigh untuk menyiapkan pasukan.
Malam itu Shariffudin sedang bersama ayahnya, “Aku sudah merencanakan pembunuhan Salim dgn sempurna” kata ayah Shariffudin “Raja Jalal telah menghinamu dan sekarang dia akan kehilangan anaknya lagi” ujar ayah Shariffudin lagi. “Bagaimana caranya ayah?” tanya Shariffudin tepat pada saat itu Bhaksi Banop masuk kekamar tersebut dan mendengarkan semua percakapan suami dan ayah mertuanya. “Orang-orangku akan membunuh Salim diMandir” lanjut ayah Shariffudin lagi, Sharif tertawa mendengarnya dan berkata: “Besok adalah hari yang paling paling paling buruk buat Raja Jalal!” Bhaksi Banoo bersembunyi dan mendengar semua rencana jahat suaminya.
Malam itu diluar istana, Zil Bahar mengajak Raja Jalal dan semua pasukannya ketempat para preman yang telah membuat rencana pembunuhan Salim, “Baiklah, kau tunggu disini saja, sekarang kami akan mengurus mereka semua” ujar Raja Jalal. Digubuk para preman tersebut, mereka sedang menikmati malam itu, sesaat kemudian Raja Jalal dan pasukannya masuk kegubuk dan perkelahianpun terjadi, Raja Jalal, Maan shing dan pasukannya berhasil membunuh para preman tersebut, lalu Raja Jalal bertanya pada salah satu preman: “Katakan! siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku dan anakku!” bentak Raja Jalal “Kalau kau tidak mengatakan, aku akan mengirimmu keneraka! kau akan merasakan kematian yang mengenaskan!” bentak Raja Jalal lagi, “Ampuuun, ampun Yang Mulia, hamba mohon ampun, semua ini rencana Shariffudin dan ayahnya, mereka yang menyuruh kami untuk membunuh Pangeran Salim” kata preman tersebut, Raja Jalal sangat terkejut mendengarnya.
Diistana Agra, Bhaksi Banoo menghampiri Shariffudin “Aku akan mengatakan semua kebenaran ini pada Raja Jalal meskipun kau akan membunuhku, aku tidak takut!” ujar Bhaksi Banoo. Sharif langsung memegang Mehtab (anak perempuan mereka) dan menaruh belatinya dileher Mehtab, “Apa yang kau lakukan? lepaskan Mehtab!” teriak Bhaksi Banoo. “Dari dulu aku tidak pernah menginginkan anak ini lahir!” kata Sharrif, “Kau iblis! ayah macam apa kau ini! kau tidak pantas untuk hidup!” kata Bhaksi Banoo sambil melemparkan sebuah gelas kearah muka Sharrif dan menyuruh Mehtab untuk lari keluar, Mehtabpun berlari meninggalkan mereka berdua “Beraninya kau, Bhaksi Banoo!” teriak Sharif sambil melemparkan Bhaksi kedinding, kepala Bhaksi langsung terkena tiang penyangga dikamar itu dan berdarah, seketika itu juga Bhaksi Banoo pingsan.
Tak berapa lama kemudian ayah Sharrif datang “Kenapa kau lakukan ini, Sharrif?” tanya ayahnya, “Dia tahu tentang rencana kita, ayah!” ujar Syarif, “Jadi dia tahu tentang rencana kita? kalau begitu ayo. kita pergi dari sini sebelum mereka menemukan kita!” ujar ayah Sharrif, “Aku tahu jalan rahasia keluar dari istana ini ayah, ayooo, kita pergi!” kata Sharrif dan merekapun berlalu dari sana.
Sesampainya diistana Agra, Raja Jalal langsung memerintahkan pengawalnya untuk mencari keberadaan Shariffudin dan ayahnya, kemudian Raja Jalal mencari dikamar Bhaksi Banoo dan dilihatnya disana adiknya sedang tidak sadarkan diri “Yang Mulia, kami sudah mencari Sharrifudin kemana-mana diistana ini, tapi kami tidak bisa menemukannya” ujar Maan Sigh “Aku tahu, lewat jalan mana dia keluar dari istana ini” ujar Raja Jalal sambil menggendong Bhaksi Banoo.
Dikamar Bhaksi Banoo, Bhaksi Banoo saat itu sudah diobati dan sudah pulih dari pingsannya, dia sedang berbaring diatas kasurnya ditemani oleh anak perempuannya Mehtab, tak lama kemudian Jalal, Ratu Jodha dan Ratu Rukayah datang kekamarnya. “Bagaimana keadaanmu? kau sudah baikkan?” tanya Raja Jalal, “Aku malu, aku malu dgn perbuatan suamiku, aku tidak tahu mukaku akan ditaruh dimana setelah kejadian itu” ujar Bhaksi Banoo,
“Ini bukan salahmu, Bhaksi Banoo, ini adalah salahku, aku telah memilih orang yang salah untuk menjadi suamimu, mereka telah kabur dari istana ini tapi suatu saat kami akan menangkapnya segera” ujar Raja Jalal “Sekarang aku tahu semua permasalahan ini ternyata dibuat oleh mereka berdua, dia mengirimkan aku kekamarmu sehingga mereka bisa menyerangku, sekarang mereka merencanakan untuk membunuh anakku” kata Raja Jalal “Aku tdaj mau melihat wajahnya lagi, Raja Jalal” ujar Bhaksi Banoo.

Lanjut Halaman Berikutnya –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *